Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

29 September 2011

Melahap Informasi dari Sindikasi Berita

Perkembangan teknologi, termasuk internet, semakin lama semakin memudahkan kita, khususnya dalam menyerap informasi. Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertai perkembangannya, akselerasi akses informasi oleh publik sangat dipengaruhi dan sekaligus didorong oleh kemajuan teknologi.

Kalau dulu orang harus berlangganan lebih dari satu majalah atau koran agar tidak ketinggalan informasi, sekarang tidak lagi. Informasi yang masif dan murah bisa diperoleh lewat internet. Meski demikian, tetap saja diperlukan teknik yang cerdas untuk mendapatkan informasi tanpa harus membuka satu-satu berbagai situs yang dibutuhkan. Selain makan waktu, cara demikian juga tidak efektif dan melelahkan.

Teknologi RSS (Really Simple Syndication) memudahkan Anda mengumpulkan informasi yang Anda butuhkan di satu tempat. Ini jelas sangat menghemat waktu Anda. Jika biasanya Anda browsing ke sana kemari, dengan teknologi ini Anda cukup duduk dan memilah informasi ringkas yang memang Anda butuhkan. Waktu yang biasanya digunakan untuk browsing mencari berita terbaru misalnya, bisa digunakan untuk melakukan hal lain.

Browser yang beredar saat ini rata-rata dilengkapi dengan fitur untuk membaca RSS feed. Jika Anda menemukan situs yang menarik, Anda tinggal memasukan atau mencatat alamat RSS feed ke browser Anda. Dengan kata lain, Anda berlangganan informasi dari situs tersebut tanpa harus mengunjungi situsnya. Intinya, mengakses informasi dari berbagai situs di satu tempat: browser Anda.

Bagaimana kalau ini juga masih menyita waktu Anda? Ada cara yang lebih mudah. Anda tidak usah meng-input sendiri alamat situs tertentu untuk dimasukkan ke dalam fitur RSS di browser Anda. Ada beberapa situs yang saat ini memang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan berbagai RSS (feed) di satu tempat. Anda tinggal mengakses situs tersebut, dan yang perlu Anda lakukan hanyalah mengecek dan memilah mana informasi yang Anda butuhkan. Jadi tak perlu lagi merambah (browsing) ke sana ke mari. Cukup memonitor di satu tempat.

Jika Anda tidak mau ketinggalan berita terbaru misalnya, Anda bisa mencoba mengunjungi situs Beritaku (http://www.facebook.com/beritaku). Di sini tersedia berbagai informasi dari puluhan media berita online terkemuka (detik, metro, media indonesia, kompas dll.). Anda bahkan bisa menonton berita televisi (TVOne, SCTV dll.) atau mendengarkan radio (BBC, Elshinta, Radio Nederland dll.) di mana pun Anda berada, dengan catatan ada koneksi internet tentunya.

Jika Anda penggemar sepakbola, Anda tinggal mengakses situs Info Bola (http://www.facebook.com/pages/Info-Bola/119829001454929). Di situs ini, semua informasi tentang sepakbola dalam dan luar negeri tersedia secara gratis untuk Anda. Ingin mendalami Islam? Coba berkunjung ke situs 6666 Ayat Suci (http://www.facebook.com/6666AyatSuci). Bahkan untuk urusan informasi lowongan pekerjaan pun tidak sulit. Buka saja situs Lowongan Kerja (http://www.facebook.com/pages/Lowongan-Kerja/247563771933772). Selain lowongan kerja yang di-update setiap hari, Anda juga bisa memperoleh berbagai tips seputar karir dan pekerjaan. Kalau Anda mencari-cari tips unik, silakan cari di Tips Unik (http://www.facebook.com/pages/Tips-Unik/129908767081143).

Kesimpulannya, informasi bisa diperoleh dengan mudah saat ini. Dan ingat, ini adalah abad informasi. Siapa yang memiliki informasi, maka dialah yang lebih berpeluang menggenggam sukses. Manfaatkan kemudahan teknologi secara maksimal, jangan malah sebaliknya: Anda dimanfaatkan oleh teknologi. Biarkan situs-situs tersebut mencari dan mengumpulkan semua informasi untuk Anda. Sebab Anda pantas untuk mendapatkan yang terbaik. Dan yang termudah tentunya.

28092011

18 Maret 2011

'MEMBACA' PUISI

oleh: Tata Danamihardja
 
'Membaca' puisi yang saya maksudkan di sini adalah merasakan, menikmati dan menilai sebuah puisi. Jadi, bukan membaca dalam arti mendeklamasikan puisi. Jangan pernah mengharapkan saya akan membedah secara teoretis soal itu, sebab dalam hal ini saya tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Yang saya lakukan hanyalah berbagi dengan Anda tentang apa yang saya lakukan dalam 'membaca' sebuah puisi, baik itu karya orang lain maupun tulisan sendiri.
 
Karena saya tidak berlatarbelakang pendidikan sastra, maka yang pertama bermain adalah rasa. Maksudnya porsi terbesar yang mempengaruhi penilaian saya adalah rasa, dan bukan segala teori yang tidak saya kuasai dan belum pernah saya pelajari. Apakah kata-katanya mengalir? Biasanya saya merasa agak terganggu dengan  kata-kata yang terlalu hebat meloncat-loncat, atau perpindahannya terlalu tajam dari satu simbol ke simbol yang lain. Ini bukan soal bagus atau jelek, melainkan hanya soal pilihan. Dan secara pribadi, hingga saat ini saya lebih memilih sesuatu yang tidak terlalu menyentak-nyentak.
 
Yang berikutnya adalah soal diksi atau pilihan kata. Dalam menulis puisi, saya lebih suka menggunakan kata-kata biasa, kata-kata yang tidak terlalu asing bagi orang kebanyakan seperti saya. Jika Anda mengenal lagu-lagu Chrisye yang ditulis oleh Guruh di tahun 80-an, syairnya banyak mengandung kata-kata dari bahasa Sanskerta. Meski secara keseluruhan saya sangat menyukai lagu-lagunya, tapi tetap saja bagi saya pilihan katanya adalah sebuah kegenitan. Perhatikan misalnya kata-kata dalam lagu Smara Dahana:
 
Ratih dewi, citra khayalku prana, dalam hidupku...
Andhika dewa, sirna duli sang smara, merasuk sukma...
 
Jujur, hingga saat ini saya hanya bisa menebak-nebak makna dari kata-kata tersebut. Puisi memang harus membuat orang berpikir, merenung, menjelajahi kedalaman makna. Tapi tentu tidak perlu sampai membuat orang mencari-cari toko buku yang menjual kamus Sanskerta :)
 
Familiar dengan lagu-lagu Iwan Fals? Perhatikan lirik-lirik lagunya yang bersahaja dan jarang mengada-ada. Meski tak pernah dijuluki penyair, saya memandangnya sebagai penyair. kata-katanya puitis dan menawarkan hal-hal yang baru. Membandingkan mata yang bulat indah dengan bola pingpong (dalam lagu Mata Indah Bola Pingpong) misalnya, bagi saya adalah simbolisasi yang baru dan orisinal. Saya juga tercengang dengan cara dia membandingkan (maaf) pantat dengan salak raksasa dalam lagu Guru Zirah. Seumur-umur, saya baru mendengar perbandingan yang seperti itu. Anehnya, apa yang dia lakukan tetap terasa wajar dan tidak mengada-ada. Makanya saya katakan dia menawarkan sesuatu yang baru.
 
Kalau soal puisi yang dijadikan lagu, maka Ebiet G. Ade adalah favorit saya. Dia memang penyair yang kebetulan diberi kelebihan lain: suara yang indah. Dia bahkan mampu menyajikan erotisme dalam bahasa yang halus, puitis dan santun dalam syair lagu Cinta di Kereta Biru Malam:
 
Semakin dekat aku memandangmu,
semakin tegas rindu di keningmu
Gelora cinta membara di pipimu
Gemercik hujan di luar jendela
Engkau terpejam bibirmu merekah
mengisyaratkan hasrat di tanganmu
Selimut biru yang kau ulurkan kepadaku
Penahan dingin di kereta Biru Malam
Kau nyalakan gairah nafsuku, kau hela cinta di dadaku
hm..
Kau ciptakan musik irama tra la la la la la la
Kau ciptakan gerak irama tra la la la la
Kau ciptakan panas irama tra la la la la la la
Kau ciptakan diam irama tra la la la la ha ha ha ha
la la la la hm hm la la la la hm hm la la la la
 
Bahkan bait ketiga yang sesungguhnya merupakan bagian 'paling panas' dituliskan Ebiet dengan simbol-simbol yang justru paling halus. Hebatnya, kata-kata yang dipilihnya justru kata-kata yang sederhana dan sering kita temukan dalam keseharian. Jauh dari kesan genit dan pamer.
 
Kembali ke soal 'membaca' sebuah puisi, yang tidak kalah pentingnya bagi saya adalah soal menuliskan kata dengan benar. Ini penting bagi saya untuk membantu memudahkan dalam memahami makna secara keseluruhan. Logikanya, bagaimana kita bisa memahami makna puisi dengan baik jika kita masih harus disibukkan dengan memikirkan ejaan yang salah, kata-kata yang disingkat dll. Paling tidak, agar tulisan kita bisa dinikmati dengan baik, kesalahan-kesalahan seperti ini harus ditekan seminimal mungkin.
 
Terakhir, yang harus menerus saya katakan berulangkali, ini bukan tutorial apalagi teori yang wajib Anda patuhi. Saya bukan orang yang pantas untuk melakukan itu. Apa yang saya tuliskan di sini hanyalah apa yang ada di dalam otak saya saat ini, berdasarkan apa yang saya serap dari apa yang ada di sekitar saya. Apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang saya baca, apa yang saya alami, apa yang saya pahami. Jadi bisa saja ada benarnya, tetapi yang pasti akan sangat banyak salahnya. Dan perkara dibaca orang atau tidak, sejujurnya itu sama sekali bukan urusan saya.
 
Maka jika Anda sudah terlanjur membaca sampai di sini, Anda tak perlu menjadi ragu atau takut  untuk menulis sesuatu. Bahkan kalau Anda sama-sama pemula seperti saya, harusnya kita menjadi lebih terdorong untuk mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut. Toh yang membaca kan kita-kita juga. Saling berbagi, baik langsung atau tidak, akan membuat proses belajar menjadi lebih cepat dan menyenangkan.
 
Ayo terus menulis!
 
17/02/2011

19 Februari 2011

SUNDA BITEL: THE BEATLES LOCALIZATION

 
In the era of global village, localization seems to be a must. Many global businesses have done this to push their sales. When you do some business in foreign country, you  have to localize your products so that your local consumers understand them in their local taste. One of the way to localize is to promote your product in local language.
 
But you see, I'm not talking about business or promotion. Moreover, this is about The Beatles which is no need promotion in such a way anymore. They have been famous all over the globe. So, what I'm gonna talk about is non-commercial localization of the Beatles' songs. And this is done by an Indonesian group called Sunda Bitel.
 
The name of the group itself is localized. Bitel [beetl] seems to be a common pronunciation of Beatles in Indonesia. This group consists of four Sundanese people, a second biggest tribe among various existing tribes. Then they name the group Sunda Bitel meaning Sundanese Beatles.
 
They actually play The Beatles songs in Sundanese language. Uniquely, the songs sounds similar with the original (English) version because they don't translate the songs. They only transfer similarity of pronouncing. For instance, I'll Follow The Sun is localized to be Ka Toko Hasan. It has no relation at all in meaning but sounds very similar.
 
So far, they have localized more than forty songs. And it is interesting to find an alternative way in listening to great Beatles' songs. To hear how Sunda Bitel sings The Beatles songs in Sundanese language, please visit http://www.facebook.com/sundabitel.

21 November 2010

BERBURU TEMAN

Agak ngeri ya mendengarnya? Tapi tentu saja berburu di sini tidak seperti berburu di hutan. Tidak ada darah, tidak ada tembakan. Ini hanya istilah saya saja, melihat banyaknya orang yang berlomba-lomba menambah jumlah teman dalam friend list mereka di Facebook. Cuma kaget saja, soalnya orang yang bukan siapa-siapa, bukan artis, bukan selebritas, bisa memiliki ribuan teman dalam friend list mereka dalam waktu sekejap :)
 
Tapi bukankah peribahasa mengatakan memiliki 1000 teman masih kurang, dan memiliki musuh satu sudah terlalu banyak? Betuul, saya sangat setuju dalam hal ini. Tapi mari kita coba melihatnya secara lebih jernih. Jika dalam friend list Anda terdapat 1000 nama, kenalkah Anda dengan mereka semua? Maksud saya apakah Anda mengenalnya secara dekat layaknya seorang teman di dunia nyata? Silakan dijawab secara jujur dan tak perlu diucapkan. Simpan saja jawabannya dalam hati.
 
Saya tidak menafikan kenyataan bahwa banyak di antara teman-teman saya di dunia maya yang ternyata juga berkembang menjadi teman baik saya di dunia nyata. Tapi jika diprosentasikan, jumlahnya tidak lebih dari 10%. Sisanya adalah teman-teman lama ditambah teman-teman yang sekedar kenal nama, sekedar teman untuk ber "say hello", serta berbasa-basi alakadarnya. 
 
Lalu apa salahnya dengan hal itu? Sudah tentu tidak ada yang salah. Bukankah tadi juga sudah saya katakan bahwa memiliki 1000 teman itu masih kurang? Yang salah adalah jika menambah jumlah teman dalam friend list menjadi tujuan, demi mendapatkan pujian bahwa kita memiliki banyak teman, bahwa kita populer, bahwa kita terkenal, dsb. Jika Anda memiliki banyak teman karena sifat Anda membuat senang banyak orang, itu sebuah anugerah. Tetapi jika Anda berburu teman, meng-'add' orang secara membabi buta, maka dengan sangat menyesal Anda saya masukkan ke dalam kategori 'gila hormat', gila popularitas, norak, dan seterusnya.
 
Saya jadi teringat ketika pertamakali ngeblog beberapa tahun lalu. Saya ngeblog di blogspot, yang waktu itu masih versi lama. Blogspot memang tidak dirancang sebagai social network, dan lebih cenderung menjadi jurnal pribadi untuk menyalurkan keinginan menulis. Meski demikian, para pengguna blogspot juga, seperti juga di dunia nyata, berinisiatif mengembangkan sendiri jaringan sosial. Caranya tentu serba manual, karena situs blog ini memang tidak diperlengkapi dengan tool untuk menciptakan network.
 
Jika kita tertarik dengan tulisan seseorang di blog lain, dan ingin menjadikan pemilik blog itu sebagai teman, biasanya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu, baik melalui komentar di blognya, mau pun lewat email. Setelah itu baru kita mengutarakan niat kita untuk menambahkannya di blog roll kita. Seolah ada semacam kesepakatan tidak tertulis, orang yang namanya kita tambahkan di blog kita juga akan akan menambahkan nama blog kita di blog roll miliknya. Istilahnya adalah reciprocal link. Cara ini, selain mempererat pertemanan, juga dipercaya akan meningkatkan indeks blog masing-masing pada mesin pencari. Jangan lupa pula, proses menambahkan teman ke blogroll ini juga dilakukan secara manual.
 
Barangkali karena caranya yang agak ribet tadi maka pertemanan yang terjalin dengan cara ini lebih terasa erat. Hal yang sama juga terjadi jika kita menggunakan blog di wordpress, blogsome, atau yang lainnya. Baru setelah itu muncul blog dengan pendekatan social networking semacam Friendster atau juga Multiply. Meski proses menambah teman menjadi lebih mudah, namun penekanan utamanya masih lebih kepada fungsi blog sebagai jurnal pribadi. Memelihara kualitas konten masih menjadi 'dagangan' nomor satu. Maksud saya, semakin bagus dan menarik tulisan-tulisan kita, semakin mudah pula kita mendapatkan banyak teman.
 
Seiring perkembangan, muncullah apa yang dinamakan micro-blogging. Maksudnya kurang lebih ngeblog tapi isinya sangat ringkas. Kalau blogging konvensional melakukan update seminggu sekali saja sudah bagus, maka dengan micro-blogging update bisa dilakukan nyaris setiap saat. Dulu saya merasa nggak pede kalau menulis di blog hanya 10 atau 20 kalimat, dalam micro-blogging kita justru didorong untuk menulis sedikit saja. Micro-blogging ini dipopulerkan oleh antara Twitter dan Facebook. Selain menulis ringkas, micro-blogging ini juga difasilitasi dengan cara menambah jaringan (baca: teman) yang serba mudah dan otomatis. Tak ada lagi proses manual dalam menambah teman ke dalam friend list kita. Tinggal klik, semuanya beres.
 
Barangkali karena kemudahan inilah, maka kita sering menemukan apa yang saya sebut sebagai pemburu teman. Saya menduga bahwa tidak ada yang mereka lakukan selain menambah jumlah teman dalam friend list mereka. Anehnya, mereka yang tergolong pemburu teman ini sebagian besar adalah pemain baru, yang tidak pernah merasakan susahnya menambah teman di era blogging konvensional. Mereka yang sudah lama ngeblog kelihatannya malah tidak terlalu antusias untuk menambah friendlist mereka.
 
Lalu apakah kita tidak boleh menambah teman? Tentu saja sangat boleh. Semakin banyak teman, semakin berharga hidup kita di dunia ini. Yang penting, jangan menambah teman hanya untuk memajang nama mereka demi popularitas kita, agar dipuji sebagai orang yang memiliki banyak teman. Memiliki sedikit teman dengan kualitas pertemanan yang baik, akan lebih bermanfaat. Namun yang terbaik tentu saja jika kita memiliki banyak teman, dengan kualitas pertemanan yang juga baik, dan bukan sekedar teman yang dimanfaatkan untuk dipajang dalam friendlist kita.
 
Tulisan ini juga bisa Anda baca di http://www.facebook.com/kangtata/ 

09 November 2010

Pahlawankah Kita?

oleh: Tata Danamihardja
 
Apa sih definisi pahlawan? Jawabannya mungkin akan sangat beragam. Tapi buat saya sederhana: orang yang berjasa. Itu saja. Ya, itu saja, tanpa embel-embel ini itu. Jadi, pada prinsipnya, semua orang bisa jadi pahlawan. Orang tua yang membesarkan kita, tetangga yang sering membantu kita, para guru yang telah mengajar kita, teman-teman yang telah menyenangkan kita, tukang becak yang mau-maunya mengantar kita, sopir angkot yang menolong kita merasakan nikmatnya naik mobil tanpa harus membeli, dan sebagainya. Bahkan saya pun menjadi pahlawan bagi saya sendiri, karena saya berjasa telah berusaha menjadikan diri saya seperti sekarang ini.
 
Siapa bilang pahlawan itu tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apa-apa? Yang tidak pernah mengharapkan balasan hanya Allah Swt. Sementara manusia, sekecil apa pun pasti mengharapkan akibat yang baik dari apa yang dilakukannya. Bukankah berharap timbulnya akibat baik dari apa yang kita lakukan adalah pamrih? Saya mencari uang dengan harapan bisa bertahan hidup, tetap sehat, dan tidak tergantung kepada orang lain. Orang tua membesarkan kita dengan harapan anak-anaknya bisa mandiri dan hidup layak. Tukang becak mengantar kita, sudah jelas berharap dibayar, karena jika tidak, mana mau mereka mengantar kita sampai napasnya ngos-ngosan? Bahkan kita beribadah pun pasti dengan harapan - minimal- ibadah kita diterima.
 
Jadi secara prinsip, setiap orang adalah pahlawan. Yang membedakannya adalah kualitas dari kepahlawanan seseorang, berdasarkan pada akibat dari tindakan yang dilakukannya. Semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya, semakin tinggi pula tingkat kepahlawanannya. Orang tua saya mungkin bukanlah pahlawan bagi Anda, karena apa yang mereka lakukan tidak memberi manfaat apa-apa bagi diri Anda. Sebaliknya, bagi saya mereka adalah pahlawan besar karena telah menjadikan saya seperti sekarang ini. Para pejuang kemerdekaan adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya, bagi negara-negara yang menjajah kita, mereka adalah musuh yang harus ditumpas habis.
 
Maka, ketika gelar pahlawan menjadi sesuatu yang harus disahkan secara seremonial formal oleh penguasa, bagi saya pribadi hal itu merupakan penurunan derajat makna pahlawan. Apalagi jika yang terjadi adalah mengusulkan gelar pahlawan demi kepentingan politik, atau kepentingan-kepentingan dangkal lainnya. Mohammad Toha yang sampai sekarang tidak diakui negara sebagai pahlawan nasional, buat saya dan mungkin sebagian orang tetap seorang pahlawan. Kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia rasanya tak perlu diragukan lagi. Soal negera mengakui atau tidak, itu persoalan yang berbeda.
 
Makanya saya setuju dengan sikap Sultan Yogya yang menyatakan menolak gelar pahlawan bagi Sri Sultan Hamengkubuwono IX jika prosesnya adalah melalui pengajuan usulan dari keluarga. Pahlawan adalah pahlawan. Diakui negara atau tidak, tetap pahlawan. Meminta gelar pahlawan kepada pemerintah persis seperti kelakuan pengemis yang meminta sedekah. Pahlawan yang sesungguhnya hanya melakukan apa yang mereka anggap bisa mendatangkan kebaikan bagi sebanyak mungkin orang. Dan satu-satunya pamrih yang diharapkan pahlawan sejati adalah keridlaan Allah Swt.
 
Selamat merayakan Hari Pahlawan, sambil merenungkan apa yang sudah kita lakukan hingga saat ini.

28 Oktober 2010

Sumpah Pemuda dan Semangat Kekinian

oleh: Tata Danamihardja
 
Pertama. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
 
Begitulah bunyi Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Aksi monumental ini merupakan wujud kesadaran berbangsa dan bernegara yang mencerminkan keluhuran sikap toleransi berbagai elemen bangsa. Betapa tidak, unsur-unsur kepemudaan yang berangkat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan kepentingan menyatukan tekad untuk bernaung dalam satu wadah yang belakangan disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Bayangkan, betapa hebatnya manusia-manusia belia saat itu. Mereka mampu mengesampingkan kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan demi mencapai tujuan kolektif yang lebih besar. Pertentangan berbagai kepentingan di level bawah diselesaikan dengan cara yang sangat elegan. Jika tidak, mungkin saat ini kita tidak tinggal dalam sebuah negara yang namanya Republik Indonesia.
 
Sayangnya kearifan tingkat tinggi yang ditorehkan dalam sejarah itu tak lagi diteladani dalam konteks kekinian. Yang terpapar dalam pandangan keseharian kita saat ini justru kebalikannya. Kepentingan pribadi menjadi panglima dengan berlindung di balik tameng hak azasi. Para penyelengara kekuasaan menciptakan wilayah bermain sendiri. Onani politik yang hanya mengejar kepuasan pribadi dan golongan menjadi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Kita kebingungan mencari teladan yang bisa dijadikan panutan. Kepercayaan terhadap para pemimpin yang bertahta di menara gading melorot drastis hingga ke titik nadir.
 
Tidak adanya teladan yang patut menjadi panutan berimbas pada cara pandang generasi muda secara general. Mereka teralienasi pada dunia mereka sendiri. Sikap apatis terhadap kondisi di sekitarnya telah menjadikan mereka sibuk memanjakan diri demi pencapaian hasrat hedonis yang ditularkan dari kondisi keseharian yang terserap oleh pikiran bawah sadar mereka. Gaya hidup mewah yang dipertontonkan para pemimpin diam-diam mengerogoti nilai-nilai asali yang mereka anut. Kaya secara lahiriah sudah menjadi obsesi, dan menjadi sesuatu yang wajib dicapai dengan cara apa pun. Jika para pemimpin bisa kaya dengan cara korupsi dan menyelewengkan uang rakyat, kenapa pula mereka tidak bisa meraihnya dengan cara yang kurang lebih sama?
 
Kondisi yang kita hadapi saat ini sudah sedemikian parahnya sehingga perlu langkah-langkah konkrit untuk membenahinya. Memulai dari diri sendiri adalah cara yang paling rasional. Kembali pada nilai-nilai dan semangat Sumpah Pemuda menjadi sebuah keniscayaan. Merenung, menahan diri, dan mengaplikasikan hasil kontemplasi yang jujur adalah kuncinya. Selalu bertanya pada hati nurani adalah sebuah kearifan yang bisa dilakukan oleh siapa pun, sepanjang ada niat untuk berlaku dan bertindak jujur.
 
Tapi itu saja sudah barang tentu tidak cukup. Harus ada gerakan moral dan gerakan sosial yang akan mendorong terjadinya proses perbaikan secara massal. Kita tidak membutuhkan gerakan institusional formal yang hanya akan berujung pada sesuatu yang sangat simbolis normatif. Yang kita butuhkan adalah tindakan nyata dari setiap elemen bangsa demi memperbaiki apa yang (diakui atau tidak) sudah rusak. Sejarah bukan cuma kisah yang perlu ditulis dalam buku-buku sejarah. Lebih dari itu, sejarah adalah tempat kita bercermin, sekaligus belajar dari kesalahan masa lalu dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
 
Salam Sumpah Pemuda!

24 Oktober 2010

Facebook dan Gegar Budaya

oleh: Tata Danamihardja

Tanya sekarang, siapa yang nggak kenal facebook. Orang tua, kakek-kakek, nenek-nenek, setengah baya, oom-oom, tante-tante, anak-anak SD, SMP, anak muda apalagi. Semua kenal facebook. Minimal pernah mendengar kata facebook.

Facebook menjadi fenomena yang ajaib. Sepanjang yang saya tahu, belum pernah ada situs jejaring sosial yang bisa menandingi popularitas facebook seperti saat ini. Friendster dan Multiply yang diklaim cukup populer dan hadir lebih dulu, benar-benar nggak ada apa-apanya dibanding facebook dalam hal popularitas di Indonesia. Apalagi blog konvensional semacam blogspot atau wordpress yang membutuhkan 'intelektualitas yang lebih'.

Apa sih yang membuat facebook begitu dahsyat berkembang di Indonesia? Ada beberapa alasan sesungguhnya, tetapi saya rasa ada dua hal yang sangat mendasar. Yang pertama adalah soal kepraktisan. Ngeblog di facebook (saya lebih suka menyebutnya begitu) tidak membutuhkan waktu, beda dengan ngeblog di blogspot misalnya. Jika di blogspot atau wordpress misalnya kita merasa risih kalau hanya posting beberapa kalimat, di facebook justru sebaliknya. Kita malah dibatasi untuk tidak mengumbar kata dan hanya dibolehkan menulis maksimal 480 karakter sekali posting. Di facebook juga sangat mudah untuk menambah teman. Klik add friend, maka dalam waktu singkat jumlah teman kita bertambah. Di blog konvensional prosesnya lebih rumit dan lebih mirip di dunia nyata. Kita bertandang dulu ke blog yang kita sukai, kulo nuwun, minta izin untuk menjadikannya teman atau tetangga di blog. Proses menambahkan link teman di blog kita juga dilakukan secara manual.

Yang kedua, timing yang tepat. Kehadiran facebook di Indonesia bertepatan dengan munculnya berbagai tipe handphone cerdas berharga murah yang bisa digunakan untuk mengakses internet. Tak heran jika saat ini nyaris semua orang bisa browsing internet dengan hanya menggunakan handphone. Penyebaran warnet hingga ke pelosok juga memiliki peran penting dalam meningkatkan popularitas facebook.

Maka jangan heran jika saat ini anak-anak SD sudah fasih berbicara soal facebook. Dalam pertemuan-pertemuan sosial, selalu terselip perbincangan soal facebook. Tukar-tukaran kartu nama tidak lagi trendy. Yang lebih sering dilakukan adalah tukar-tukaran alamat facebook.

Di satu sisi, facebook memang bisa sangat bermanfaat. Facebook bisa dijadikan penghubung komunikasai pertemanan yang sudah lama terputus. Banyak contoh orang yang sudah lama terpisah baik itu teman, saudara, kerabat dsb, bisa bertemu kembali justru lewat facebook. Facebook juga bisa dijadikan promotional tool (media promosi) yang cukup ampuh. Bisnis mulai dari kelas rumahan hingga berskala raksasa ramai-ramai memanfaatkan facebook untuk menjaring konsumen dengan memanfaatkan page atau group di facebook.

Terlepas dari sisi baiknya, facebook juga disinyalir menimbulkan berbagai dampak buruk. Kasus-kasus penculikan anak remaja dan berbagai penipuan terjadi gara-gara facebook. Berbagai kejadian tersebut diklaim berawal dari facebook. Paling tidak, begitulah yang muncul ke permukaan lewat berbagai pemberitaan. Pertanyaannya, Adakah sesuatu yang salah dengan facebook?

Laiknya mata pisau yang bisa bermanfaat atau bisa merugikan, begitu pula halnya dengan facebook. Ia bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jika digunakan secara tepat dan proporsional, namun sebaliknya bisa merugikan jika tidak digunakan dengan benar. Kehadiran facebook yang sangat mendadak dalam khasanah kehidupan kita, membuat sebagian kalangan mengalami apa yang disebut sebagai culture shock alias gegar budaya.

Misalnya, kita yang terbiasa mempercayai orang di sekitar kita, akan dengan mudahnya mengumbar informasi pribadi ke account facebook kita. Segala nomor telepon, alamat rumah dan informasi lainnya kita cantumkan di sana, sehingga setiap orang bisa mengakses informasi-informasi tersebut dengan mudah. Padahal di belantara dunia maya itu bertebaran manusia-manusia yang tidak semuanya bertujuan baik. Akibatnya, terjadilah kasus-kasus yang tidak diinginkan.

Mereka yang sudah lama bergentayangan di dunia maya, para blogger dlsb, tentu sudah sangat mafhum dengan semua itu. Namun mereka yang benar-benar baru, tentu tidak akan melihat hal itu jika tidak dibimbing oleh orang yang sudah berpengalaman. Laiknya seorang greenhorn yang perlu banyak bertanya kepada Old Shatterhand yang sudah berpengalaman menjelajahi western world dalam cerita Karl may, begitulah seharusnya yang dilakukan oleh teman2 kita, adik2 kita yang masih baru menjelajahi belantara dunia maya. Dan tentu saja, perlu banyak Old Shatterhand yang mau berbagi ilmu dan membimbing para new comer ini.

Gegar budaya dalam lingkup pergaulan global memang tidak bisa dihindari. Namun yang pasti, hal itu bisa diminimalisasi dengan upaya yang dilakukan secara simultan dan bersama-sama. Bagaimana menggunakan sesuatu secara tepat sehingga bisa bermanfaat dan bukan sebaliknya, adalah tanggung jawab kita bersama. Kisah-kisah semacam kulkas yang dijadikan lemari pakaian atau pispot yang dijadikan tempat nasi, adalah hiperbola yang tidak perlu terjadi di alam nyata. Menghindari gegar budaya semacam itu memang membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata dari kita semua, agar kita tidak lagi mendengar kasus penipuan, kasus penculikan dlsb yang terjadi karena ketidaktahuan memanfaatkan sesuatu dengan tepat. Facebook bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Sebaliknya justru harus dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab.

Klik tombol player untuk mendengarkan versi audio:
Facebook dan Gegar Budaya

Versi audiobook lainnya bisa didengarkan di: Tata's Podcast

03 Oktober 2010

Apa itu Voice Over?

Istilah voice over mungkin belum terlalu familiar bagi kita di Indonesia. Menurut Wiktionary, voice over adalah:
 
1. A TV broadcast etc., in which pictures are accompanied by the voice of an unseen actor or reporter.
2. The audio track of such a broadcast.
 
Maksudnya kurang lebih suara dari aktor atau reporter yang menyertai gambar pada siaran TV, atau bagian audio dari program siaran semacam itu.
Belakangan makna tersebut berkembang lebih luas lagi, dan bukan hanya berkaitan dengan siaran televisi. Presentasi, buku audio (audiobook), iklan radio, promo film atau promo program radio/TV, jingle dll termasuk dalam kelompok voice over. Untuk gampangnya, hampir semua produk audio yang dilahirkan dari suara manusia dikelompokkan ke dalam jenis voice over.
 
Pelaku voice over disebut voice over talent, voiceoverist, atau voice over actor. Sayang hingga saat ini saya belum menemukan padanan istilah tersebut dalam bahasa Indonesia.
 
Di luar negeri, voice over talent sudah menjadi profesi yang cukup banyak diminati. para pelakunya berasal dari berbagai kalangan, meski kebanyakan berlatar belakang keradioan. Di Indonesia? Belum banyak dilirik dan bahkan belum banyak yang tahu bahwa profesi itu ada :) Untuk melihat contoh sesungguhnya, silakan berkunjung ke halaman ini (Suara Tata).
 
Mudah-mudahan seiring dengan semakin meningkatnya pemahaman terhadap pentingnya media promosi yang efektif dan efisien, profesi voice over talent akan semakin berkembang dan lebih dikenal di masyarakat.

01 Februari 2010

PROGRAM SERATUS HARI

PROGRAM SERATUS HARI, kata sebagian orang tak lebih dari HAMPAR RETORIS SURGA atau HATUR PROGRAM SERASI. Ada juga yang menyebut PROGRAM HIU TERSASAR dan PROGRAM SEARAH TURIS karena terkesan tidak jelas dan tunduk pada kekuatan asing, sementara rakyat miskin harus menjalankan PROGRAM SAHUR TERASI saking miskinnya.

Padahal banyak yang berharap program itu harus seperti GARAP TERORIS MASHUR yang sukses, karena kita memang HARUS GAMPAR TERORIS.

Ah, sudahlah. JASA DISAINER PANGGUNG (=JANGAN DIANGGAP SERIUS). KOMISI AGEN KUNCI (=INI CUMA ISENG KOK).

**Lagi iseng, sekedar membolak-balik urutan huruf PROGRAM SERATUS HARI).**

21 Oktober 2009

Inferiority Complex Orang Sunda

Konon, suku bangsa Sunda berada di urutan kedua terbesar setelah Jawa dalam soal jumlah. Tapi soal kebanggaan menjadi orang Sunda, masih perlu dibuktikan. Paling tidak, ada beberapa hal yang kemungkinan menjadi indikasi lunturnya kebanggaan menjadi orang Sunda. Keengganan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu adalah salah satunya. Banyak pasangan muda Sunda yang lebih memilih berkomunikasi dengan anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia. Jika kecenderungan ini meluas, saya khawatir dalam sekian puluh tahun ke depan akan muncul generasi manusia Sunda yang tercerabut dari akar budaya Sunda, dan teralienasi di lingkungan budayanya sendiri.
 
Bayangkan, suatu saat akan muncul remaja-remaja Sunda yang palahak-polohok dan sama sekali tidak memahami percakapan yang dilakukan dalam bahasa Sunda. Bahkan hal itu sudah sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ada tindakan antisipatif dari orang Sunda sendiri, bukan tidak mungkin, suatu saat bahasa Sunda akan lenyap dan tidak lagi digunakan oleh orang Sunda. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka jangan heran jika ada yang mengatakan bahwa suku Sunda adalah suku yang paling tolol di dunia! Apalagi yang lebih bodoh daripada tidak bisa menjaga bahasanya sendiri?
 
Kecenderungan merasa rendah diri alias mengidap inferiority complex sebagai orang Sunda, juga bisa dilihat dari beberapa hal kecil yang mungkin seringkali luput dari perhatian kita. Misalnya:
 
1. Menulis kata euy menjadi uy
 
Kelihatannya sepele, padahal suatu saat bisa menjadi masalah serius. Bahasa Sunda memiliki lambang bunyi yang khas dan tidak terdapat dalam bahasa lain. Salah satunya adalah bunyi eu ini. Kata-kata peuyeum, beureum, peureup, dan euy misalnya, ditulis menggunakan lambang bunyi tersebut (eu). Jadi, kenapa harus mengikuti gaya orang lain? Kita toh memiliki lambang bunyi sendiri untuk menuliskannya.
 
2. Menulis kata nya menjadi nyak
 
Ini pengaruh orang Jawa, yang cenderung melenyapkan bunyi huruf k di ujung kata. Misalnya: Teu kenging bangor nya ditulis Teu kenging bangor nyak. Aneh kan?
 
3. Menulis kata haneut menjadi haneud
 
Juga pengaruh Jawa, biasanya membaca huruf d di ujung kata menjadi t. Misalnya UNPAD dibaca UNPAT.
 
Contoh-contoh lainnya bisa Anda cari sendiri, dengan syarat: mau jujur terhadap diri sendiri. Kalau tidak, maka yang muncul adalah sikap defensif dan mencari-cari alasan pembenaran terhadap apa yang Anda lakukan. Ingat, bahasa adalah kunci untuk menguasai budaya suatu (suku) bangsa. Dengan demikian, posisinya menjadi sangat vital dalam pelestarian budaya.
 
Bahasa Sunda memilik aturan sendiri. Jadi kenapa pula kita harus tunduk pada aturan orang lain yang belum tentu lebih bagus? Parahnya lagi, ketika kita melakukan kesalahan-kesalahan kecil tadi, tidak ada seorang pun yang memaksa kita. Kita melakukannya secara sukarela, karena alasan entah apa. Yang jelas, alasan yang paling mungkin adalah inferiority complex tadi. Kita merasa tidak percaya diri untuk menunjukkan jatidiri kita sebagai orang Sunda.
 
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghindari inferiority complex alias rasa minder atau rasa rendah diri:
  1. Tanamkan dalam diri kita bahwa Sunda adalah yang terbaik. Masa sih kalah oleh etnis lain dalam mencintai budaya Sunda? Nama-nama Tan Deseng, Anis Jatisunda, Becki (sinden bule) dll., menjadi bukti bahwa Sunda memiliki banyak hal adiluhung yang membuat mereka yang notabene berasal dari etnis dan bangsa lain mengakui kualitas budaya Sunda. Tidak malukah kita melihat 'orang lain' lebih mencintai Sunda dibanding orang Sunda?
  2. Pelihara bahasa Sunda. Tadi sudah saya katakan bahwa bahasa merupakan kunci untuk menguasai budaya. Maka bahasa Sunda menjadi sangat penting, sekaligus menjadi identitas yang menegaskan bahwa kita adalah orang Sunda. Caranya? Ajarkan bahasa Sunda kepada anak-anak kita, jadikan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Jangan takut di cap kampungan! Yang kampungan adalah mereka yang malas mengajarkan bahasa Sunda kepada anak-anaknya. Tidak malukah Anda melihat anak-anak kita palahak- polohok dan geblah-gebloh mendengar orang yang bertutur dengan bahasa Sunda padahal mereka adalah orang Sunda asli? Jawablah dengan hati kecil Anda!
  3. Ingat, lidah orang Sunda sangat fleksibel, sehingga dengan menguasai bahasa Sunda, kita akan jauh lebih mudah dalam mempelajari bahasa lain. Jangan pernah percaya dengan mitos yang mengatakan orang Sunda sulit membedakan bunyi p dan f. Saya sendiri orang Sunda asli, dan tidak pernah mengalami kesulitan dengan hal itu. Sebaliknya, mempelajari bahasa Sunda jauh lebih sulit dibanding mempelajari bahasa lain. Jadi, letakkan dulu bahasa Sunda sebagai dasar (bahasa ibu), setelah itu bebas untuk mempelajari bahasa lain (bahasa kedua: Indonesia, Inggris, Prancis dll.).
Percayalah, mencintai Sunda, berbicara dengan bahasa Sunda, mengajarkan anak-anak kita berbahasa Sunda, tidak akan menjadikan derajat Anda turun atau membuat Anda jatuh miskin. Orang justru akan lebih menaruh respek kepada Anda. Pokoknya, jangan mau menjadi orang yang memiliki andil dalam membuat generasi Sunda mendatang geblah-gebloh dan palahak-polohok. Setuju?

Mendompleng Miyabi

Siapa sih yang meragukan popularitas Miyabi? Perempuan blasteran Jepang Prancis bernama asli Maria Ozawa ini memang sangat terkenal, meski hal itu diperolehnya lewat jalur kontrovesial: film porno. Popularitas itulah yang mendorong salah satu pembuat film Indonesia untuk mengajaknya bermain dalam film berjudul Menculik Miyabi.
 
Tindakan itu tentu saja memancing reaksi yang beragam. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Mereka yang setuju berkilah bahwa produksi film yang melibatkan Miyabi ini akan membantu perfilman Indonesia memperkenalkan diri di dunia internasional. Dengan kata lain dunia film Indonesia mendompleng popularitas Miyabi. Sementara mereka yang kontra sangat menentang kedatangan Miyabi, mengingat citra buruk yang disandangnya sebagai aktris film-film porno. Menurut mereka, citra buruk Miyabi itu justru akan menyebabkan citra buruk terhadap perfilman Indonesia.
 
Yang mengherankan adalah ungkapan pihak Maxima Picture, sebuah rumah produksi yang sedianya akan mendatangkan Miyabi. Menjawab pertanyaan wartawan di salah satu stasiun TV, Odi, yang mewakili pihak Maxima mengatakan: "Kami bersikukuh mendatangkan Miyabi, karena kami sudah mempersiapkan film dengan judul Menculik Miyabi. Kalau diganti dengan yang lain, kan jadi aneh." Kalau demikian, tujuan mereka memang bukan membuat film bagus, melainkan membuat film yang ada Miyabi-nya. Soal bagus atau tidak, soal dampak sosial atau yang lainnya, menjadi prioritas yang ke sekian. Yang penting adalah soal uang yang dihasilkan, sekaligus publisitas gratis yang diperolehnya gara-gara kontroversi yang terjadi.
 
Padahal kalau niatnya memang untuk memajukan perfilman nasional, kenapa tidak merangkul Jackie Chan saja sekalian? Kapasitas dan popularitasnya sudah tidak diragukan lagi. Dia adalah salah satu bintang Asia yang berkiprah di Hollywood. Soal kualitas akting, siapa pula yang meragukannya?
 
Tapi, kalau sudah menyangkut urusan uang, memang ribet. Makanya, saya cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil siap-siap menyantap Mie Ayam, produk lokal asli dan dijamin nggak porno.
 

16 September 2009

Mudik Lagi

Puasa tinggal beberapa hari lagi. Di mana-mana suasana mulai terasa berbeda. Ada ritual tahunan yang selalu tak bisa dielakkan oleh sebagian besar umat Islam menjelang Lebaran: mudik. Sebuah ritual yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan tentu saja melibatkan biaya ekstra dalam jumlah yang cukup besar.
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik berarti pulang ke kampung halaman. Secara mendasar, sebetulnya sama sekali tak ada kaitan dengan aktivitas keagamaan. Tetapi, momentum Lebaran jelas menjadi pemicu terjadinya pergerakan besar-besaran menuju kampung halaman yang dilakukan setahun sekali. Ada berbagai alasan mengapa terjadi hal yang demikian.
 
1. Memanfaatkan Momentum
 
Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran merupakan kesempatan untuk bersilaturahim dengan sanak saudara baik yang jauh mau pun yang dekat. Meski silaturahim bisa saja dilakukan tanpa harus  bertemu muka, namun rasanya lebih afdol jika hal itu dilakukan secara fisik. Bertemu dengan keluarga dan teman-teman di kampung yang sudah sekian lama tidak bertemu, menjanjikan kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Maka berapa pun besarnya biaya yang harus dikeluarkan, aktivitas mudik akan terus dilakukan sepanjang masih memungkinkan.
 
2. Pameran Keberhasilan
 
Diakui atau tidak, mudik dan berkunjung kepada sanak saudara di kampung halaman, seringkali dijadikan ajang untuk memamerkan 'keberhasilan' para perantau. Maka tidak usah heran jika suasana Lebaran di berbagai tempat selalu diwarnai dengan simbol-simbol yang secara umum dimaknai sebagai sebuah keberhasilan. Mobil dan sepeda motor yang mengkilap, baju bagus, serta peredaran uang yang meningkat tajam untuk kebutuhan konsumtif. Soal apakah setelah itu harus pusing memikirkan utang, itu urusan lain. Demi sebuah kesan keberhasilan, orang rela berbuat apa saja.
 
3. Hasrat Untuk Berbagi
 
Setelah sekian lama tidak pulang kampung, ada semacam keinginan untuk berbagi hasil keringat dengan keluarga di kampung. Maka dalam kesempatan yang hanya setahun sekali ini, tak ada salahnya untuk berbagi rezeki dalam bentuk buah tangan untuk saudara-saudara di tempat kelahiran. Sambil bersilaturahim, sekalian juga bagi-bagi hadiah. Sayangnya, hal itu pula yang dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis. Menjelang Lebaran, para pedagang (besar, terutama) memberikan iming-iming diskon besar-besaran, yang entah benar demikian atau sekedar tipu-tipu bisnis. Akibatnya, mereka yang kurang bisa mengendalikan diri seringkali terbujuk dan mau memborong barang sebanyak-banyaknya. Alasannya, mumpung lagi diskon! Hasrat berbagi yang sebetulnya indah, akhirnya dicemari oleh semangat hedonisme yang sengaja ditiup-tiupkan oleh para pelaku bisnis.
 
Yang saya uraikan di atas sesungguhnya baru sebagian kecil dari sekian banyak motivasi yang mendorong terjadinya aktivitas mudik. Yang jelas, pergerakan jutaan manusia secara serempak ini menimbulkan berbagai masalah yang harus siap-siap kita hadapi. Kemacetan, adalah salah satu masalah yang mau tidak mau harus dihadapi oleh para pemudik. Selain itu, tentu saja biaya ekstra yang harus disiapkan, yang jumlahnya juga tidak sedikit. Belum lagi tenaga dan pikiran yang harus dipersiapkan baik sebelum mudik, pada saat di perjalanan, dan setelah mudik itu sendiri.
 
Jadi, mudik jelas bukan aktivitas main-main. Ia membutuhkan persiapan dan perencanaan matang yang sebaiknya dipersiapkan jauh-jauh hari. Biaya, stamina, dan rencana yang matang tadi diperlukan agar perjalanan mudik dan perjalanan balik menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan bukan sebaliknya. Pertanyaannya, sudah siapkah Anda?
 

05 September 2009

Kesalahan Berbahasa Media

Media, apa pun formatnya, baik itu cetak mau pun elektronik, seringkali dijadikan acuan atau panutan, karena fungsinya sebagai sumber informasi. Akibatnya, jika media melakukan kesalahan, maka kesalahan itu akan dengan sangat cepat menyebar, baik di kalangan sesama media mau pun di masyarakat. Berikut ini beberapa kesalahan kecil yang seringkali luput dari perhatian kita, karena sudah dianggap biasa.
 
1. Pengucapan kata pasca
 
Pengucapan yang benar adalah pasca (seperti mengucapkan kaca) dan bukan paska. Banyak yang menyangka bahwa kata pasca berasal dari bahasa Inggris, padahal kata pasca berasal dari bahasa Sanskerta, padanan dari kata post dalam bahasa Inggris, yang artinya setelah. Post-war diterjemahkan menjadi pasca-perang. Kesalahan pengucapan ini dilakukan oleh banyak kalangan: media (TV/radio), politisi, pejabat, artis dan orang biasa.
 
2. Pengucapan kata entertainment
 
Kata entertainment masih sangat sering dipergunakan di media, meskipun sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yakni hiburan. Yang menjadi persoalan adalah banyak sekali pemandu acara (host) yang mengucapkan entertaiment dan bukannya entertainment. Kesalahan kecil berupa hilangnya huruf N di tengah-tengah ini sangat terasa mengganggu di telinga kita.
 
3. Struktur kalimat yang kacau balau
 
Kesalahan seperti ini menyebar di media cetak maupun radio/televisi. Misalnya: Menurut Kapolri dalam konferensi pers kemarin menyatakan, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap. Sepintas kalimat ini seperti tidak mengandung kesalahan. Tetapi coba kita amati, yang manakah subjek dari kalimat tadi? Jawabannya, tidak ada. Kalau saja kata menurut di awal kalimat dihilangkan, maka subjek kalimat tersebut adalah kapolri. Tapi gara-gara kata menurut di awal kalimat, maka struktur gramatikal kalimat ini menjadi kacau. Kalau ingin tetap menuliskan kata menurut di awal kalimat, maka kata menyatakan harus dihilangkan. Perhatikan kalimat yang sudah saya ubah di bawah ini.
 
Kapolri, dalam konferensi pers kemarin menyatakan, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap.
 
atau
 
Menurut Kapolri dalam konferensi pers kemarin, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap.
 
Kesalahan kecil, jika dibiarkan dan akhirnya menjadi kebiasaan, akan dianggap benar. Jadi, alangkah baiknya jika kita memperbaikinya sedini mungkin, sebelum kesalahan seperti ini berubah menjadi 'kebenaran'.

26 November 2008

Batal Nonton JakJazz

Lagi melamun bisa nonton JakJazz, tak dinyana seorang teman menawarkan tiket gratis! Kata peribahasa lama: pucuk dicinta ulam pun pengen nonton. Ya Tuhan, kalau selama ini cuma bisa nonton cuplikan-cuplikan pagelaran di TV, kini aku bisa nonton langsung!
 
JackJazz 2008Pesta para musisi jazz berkelas itu berlangsung tiga hari (28, 29, 30 Nov 2008). Hari pertama ada Kyoto Jazz Massive, Kunokini, Ray Harris and The Fusion Experience, Heaven on Earth, Tompi, Iga Mawarni, Indra Lesmana dll. Hari kedua, ada Open Hands, Twenty First Night, Barry Likumahuwa Project, Ireng Maulana, Galaxy Big Band, dll. Hari ketiga aku bisa nonton Yellow Jackets, Tohpati, Syaharani & The Queen Fireworks dll.
 
Meski bukan termasuk penikmat jazz yang baik, tapi aku selalu berusaha menikmati keindahan musik dengan caraku sendiri. Dan ini adalah kesempatan untuk memanjakan diri dengan menikmati live performance dari para pegiat musik berkualitas. Tapi Tuhan selalu punya rencana sendiri. Hari ini aku jatuh sakit. Meski masih bisa ketawa, tapi tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.
 
Dengan berat hati, rencana nonton kubatalkan. Sabaaar, sabaar, Tuhan pasti tahu yang terbaik. Yah, terpaksa nunggu lagi cuplikan-cuplikan pertunjukan di TV. Seperti biasa..
 

05 Oktober 2008

MUDIK YANG MELELAHKAN

Siapa pun tak bisa menyangkal, lebaran atau hari raya Idul Fitri adalah moment istimewa, khususnya bagi umat Islam. Saking istimewanya, sesibuk apa pun aktivitas seseorang, dia akan menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Aktivitas pulang kampung menjelang lebaran inilah yang populer dengan sebutan mudik.
 
Tak ada yang salah dengan mudik. Sekedar ekspresi keriaan yang dilakukan setahun sekali, setelah terkungkung dalam kesibukan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Maka, libur lebaran benar-benar dimanfaatkan untuk menata kembali hubungan sosial kekeluargaan yang sekian lama terabaikan.
 
Masalahnya adalah, aktivitas mudik ini dilakukan serempak dan melibatkan sekian ratus juta penduduk Indonesia yang mayoritas merayakan lebaran. Maka, muncullah berbagai masalah - kalau saya boleh menyebutnya demikian - mulai dari soal kemacetan, energi yang terkuras, hingga besarnya jumlah rupiah yang harus dibelanjakan dalam aktivitas mudik ini.
 
Pergerakan arus manusia secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman secara bersamaan tak pelak lagi menimbulkan kemacetan di banyak tempat. Kondisi ini diperparah dengan tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan, gara-gara tidak adanya kontrol pemerintah soal kepemilikan kendaraan. Lihatlah betapa mudahnya orang memiliki kendaraan (mobil, sepeda motor) di Indonesia, jauh berbeda dibanding negara-negara lain yang sangat ketat dalam hal kepemilikan kendaraan.
 
Pertimbangan memiliki kendaraan saat ini lebih banyak didasarkan pada soal prestise ketimbang soal fungsi penunjang aktivitas. Belum lagi soal polusi gas buang kendaraan bermotor yang belakangan semakin menggila, bahkan sampai ke pelosok pedesaan yang dulu boleh dikatakan bebas polusi. Polusi suara? Mungkin sama sekali tidak pernah terpikirkan.
 
Kemacetan, apalagi di saat mudik, sudah pasti mengakibatkan extra cost yang sangat besar. Pada H+3 saja kemacetan sepanjang 8 kilometer terjadi di salah satu titik rawan kemacetan arus balik, Nagreg. Bisa dipastikan bahan bakar yang dihabiskan jauh lebih besar dibandingkan kondisi biasa. Belum lagi kelelahan mental yang dialami pengemudi kendaraan dan penumpangnya, termasuk kerugian waktu yang jika dirupiahkan pasti akan mencapai jumlah yang sangat fantastis.
 
Kemacetan memang bukan hanya pada saat mudik, terutama di kota-kota besar. Barangkali sudah saatnya pemerintah mulai memikirkan hal ini secara serius. Harus segera dicari solusi dan penanganan yang menyeluruh dan tidak hanya bersifat parsial, seperti yang terjadi selama ini. Ketika Jalan tol Cipularang difungsikan misalnya, yang terjadi hanyalah pemindahan kemacetan dari Jakarta ke Bandung, karena penanganannya hanya bersifat parsial. Mungkin, seperti yang sudah saya singgung di atas, perlu dipikirkan juga soal pengendalian kepemilikan kendaraan bermotor, plus berbagai kebijakan lain yang melibatkan multi disiplin keilmuan.
 
Percayalah bahwa tidak ada masalah yang tidak disertai dengan jalan keluarnya, sepanjang ada kemauan dan niat untuk memperbaikinya. Semua pihak harus terlibat dalam mencari solusi terbaik, termasuk warga masyarakat, agar menghasilkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak dan bukannya memperparah kondisi yang sudah ada. Jika ini dilakukan dengan serius dan penuh rasa tanggung jawab, kita masih boleh berharap bahwa aktivitas mudik di masa mendatang akan lebih menyenangkan. Mudah-mudahan.

25 September 2008

Bu Tunduh: Pembela Mahasiswa Dhuafa

Membaca tulisan Tian, jadi teringat kembali masa-masa sekitar 18 tahun yang lalu, ketika masih 'nyantri' di kampus Dipati Ukur. Kuliah bermodalkan niat saja, membuat saya harus benar-benar berhitung soal biaya hidup. Karena biaya kuliah sudah tidak bisa diganggu gugat, maka biaya yang lain harus benar-benar ditekan, termasuk biaya transport dan uang makan.
 
Angkot hanya digunakan jika memang benar-benar perlu dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Alasan kerennya: biar sehat sekalian olah raga. Padahal uangnya memang nggak ada. Uang makan juga begitu. Saya harus putar otak agar tetap bisa kenyang dengan biaya seminim mungkin. Dan itu pula yang mencuatkan nama populer di kalangan mahasiswa berkantong pas-pasan: Bu Tunduh, provider menu murmer favorit.
 
Sebenarnya ada dua wanita perkasa bernama Bu Tunduh di sekitar kampus. Yang satu Bu Tunduh 'asli' yang berjualan di sebuah warung makan sederhana di belokan Singaperbangsa. Bersama suaminya dia mengelola warung makan 24 jam yang ramai dikunjungi mahasiswa dan tukang becak. Sementara yang satu lagi Bu Tunduh yang berjualan di tenda di depan perpustakaan dan hanya beroperasi selama 'jam kantor'. Suaminya adalah pegawai perpustakaan Unpad. Keduanya dipanggil Bu Tunduh karena matanya selalu terlihat seperti orang ngantuk. Tentu saja panggilan itu hanya diucapkan di belakang mereka, dan kemungkinan besar mereka tidak tahu kalau suka dipanggil dengan sebutan Bu Tunduh.
 
Dua tempat itulah yang menjadi tempat makan favorit demi alasan ekonomis. Dengan tarif yang berkisar antara Rp. 200 hingga Rp. 500 rasanya tidak berlebihan jika dua tempat itu menjadi warung makan terlaris di sekitar kampus. Kelebihan lainnya, sambil makan kita bisa 'nguping' berbagai isu yang beredar di kalangan masyarakat bawah karena tempat itu memang juga menjadi pilihan abang-abang tukang becak, kuli dll. Dalam bahasa gagah: sambil makan kita bisa menyerap aspirasi dari akar rumput (grass root). Dalam bahasa jujur: memang nggak ada pilihan lain :-)
 
Di warung Bu Tunduh depan perpus masih ada bonus lainnya. Si Ibu yang ramah ini selalu memanggil 'Aden' (untuk laki-laki) atau 'Eneng' (untuk perempuan) kepada mahasiswa yang makan di sana, tanpa memandang berapa rupiah jatah makan mereka. Semua sama, dihormati tanpa basa-basi.
 
Memang tidak semua mahasiswa suka makan di sana. Mereka yang berkantong tebal biasanya memilih tempat lain yang lebih 'representatif'. Beruntung saya kuliah di fakultas sastra yang mayoritas bergaya 'bohemian' dan tidak terlalu peduli soal penampilan dan gaya hidup. Demikian juga ketika bergabung di GSSTF yang habitatnya kurang lebih sama. Maka jadilah saya pelanggan setia dua Bu Tunduh, paling tidak sampai saat saya harus hijrah ke Jatinagor sekitar tahun 1992.
 
Sebagai tambahan, ada lagi orang yang dikenal oleh hampir semua mahasiswa di Dipati Ukur. Namanya Ade Botol (Kang Ade), penjual rokok dan minuman (teh botol dll.) di gerbang Hasanuddin. Kalau sudah kenal dekat, biasanya bisa ngutang rokok atau teh botol :-) Dia juga sekaligus berfungsi sebagai pusat informasi. Karena pergaulannya yang supel, Kang Ade mengenal hampir semua mahasiswa yang suka nongkrong di sana. Apalagi mahasiswa yang suka ngutang :-) Makanya gerbang Hasanuddin sering dipakai tempat untuk ketemuan atau janjian. Kalau orang yang janjian dengan kita belum datang, tinggal nanya: "Kang Ade, si anu jurusan anu udah datang belum?" Kang Ade pasti tahu.

21 September 2008

Download di Ziddu? Kayaknya Nggak Deh..

Belakangan ini ada trend baru di kalangan teman-teman yang penyedia file gratisan (ebook, lagu, video, dll.). Kalau dulu mereka menyimpan atau mengunggah (upload) file di tempat lain (rapidshare, eSnips, dll.), kini banyak yang memindahkan file milik mereka ke ziddu (www.ziddu.com). Apa pasal?
 
Ternyata banyak yang tertarik dengan iming-iming dollar, meski jumlahnya relatif kecil. Untuk setiap file di ziddu yang didownload oleh orang lain, sang pemilik file akan menerima USD 0,01 (kalau nggak salah). Tak heran jika banyak orang yang berbondong-bondong menyimpan file mereka di situs ini. Perhitungannya, barangkali, meski mereka tidak mengkomersialkan alias menggratiskan file yang mereka simpan di ziddu, tetapi mereka tetap mendapatkan uang.
 
Sayangnya, men-download file di ziddu sangat tidak nyaman. Paling tidak itu kesan yang saya dapatkan ketika beberapa kali 'terpaksa' harus men-download di sana. Iklannya sangat banyak, dan sebagian besar berupa banner image (gambar) statis dan animasi, sehingga loading halaman demi halaman menjadi sangat lambat. Padahal untuk mendownload satu file saja kita dipaksa untuk membuka beberapa halaman. Ini membuat saya malas.
 
Tapi jika sekedar mencoba, atau jika Anda memang tahan dengan segala ketidaknyamanan itu, ya nggak masalah. Silakan download di sana. Namun jika Anda seperti saya, lebih baik cari alternatif situs lain yang lebih nyaman dan menyenangkan.

20 September 2008

BERTARUH NYAWA DEMI 30 RIBU RUPIAH

Kaget, ngeri, sedih, marah. Itu yang terasa ketika mendengar 21 saudara kita di Pasuruan meninggal gara-gara mengantri pembagian zakat senilai 30 ribu rupiah. Orang miskin memang selalu tidak punya pilihan, sekaligus selalu berada dalam posisi yang riskan. Demi uang yang jumlahnya 'tidak seberapa' menurut ukuran kita, mereka rela menyabung nyawa karena memang tidak ada pilihan lain. Berdesakan di antara jejalan ribuan orang, kehabisan oksigen, terinjak-injak, adalah resiko yang mau tidak mau harus mereka hadapi, demi mendapatkan uang yang di mata mereka sangat berarti. Bayangkan, semua itu terjadi di tengah terik matahari, di saat sebagian besar dari ribuan pengantri tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.

 

Yang mengenaskan, ada kesan saling lempar tanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut. Pengusaha yang membagi-bagikan zakat berkilah bahwa pembagian zakat seperti itu telah berlangsung sejak tahun 1975 dan baru kali ini ada kejadian orang meninggal. Pihak berwenang yang tidak tampak batang hidungnya pada saat insiden terjadi beralasan bahwa pihak penyelenggara pembagian zakat tidak berkoordinasi dengan mereka.

 

Padahal, jika mau berpikir logis dan rasional, semua pihak seharusnya melakukan persiapan yang matang, mengingat kegiatan pembagian zakat ini melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Pihak penyelenggara seharusnya mengajukan permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian setempat. Selain itu juga mempersiapkan panitia dalam jumlah yang mencukupi, jangan sampai ketika terjadi insiden malah menyuruh orang yang mengantri untuk untuk mengantar pasien yang terinjak-injak ke rumah sakit menggunakan becak!

 

Sementara itu, pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga harus proaktif. Meski penyelenggara tidak mengajukan izin, mereka seharusnya mengingatkan penyelenggara untuk mentaati peraturan. Kalau perlu, bubarkan saja penyelenggaraan kegiatan tanpa izin, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai, karena alasan bahwa pihak penyelenggara tidak mengajukan izin, kepolisian tidak mau tahu. Masa sih, konsentrasi massa berkapasitas ribuan luput dari perhatian kepolisian. Sangat tidak etis dan bahkan biadab, ketika sudah terjadi insiden, semua pihak seolah-olah cuci tangan, tidak mau bertanggung jawab.

 

Kalau mau lebih aman, ada baiknya mereka yang mau menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh, dll., meminta bantuan lembaga-lembaga penyalur zakat yang  manajemennya lebih profesional. Sekarang banyak kok lembaga penyalur zakat swasta yang kredibel dan bisa dipercaya, disamping BAZNAS milik negara. Berbagi adalah tindakan mulia. Tetapi jangan sampai tujuan yang indah tersebut harus memakan korban, yang sebetulnya bisa dihindari jika pelaksanaannya dilakukan secara profesional.

 

Atau, jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan orang miskin di negeri ini. Jangan-jangan sinyalemen bahwa orang miskin hanya menjadi objek bagi kepentingan-kepentingan tertentu memang benar adanya. Jika memang demikian, maka Indonesia pantas menangis.  

REPUBLIK TANPA KONSEP

Berbahagialah mereka yang memiliki segalanya di dunia ini: pribadi yang mapan, keluarga yang utuh, dan negara dengan konsep yang jelas. Pribadi yang mapan jelas penting demi kelangsungan hidup secara individu. Ini adalah modal untuk meniti tahap berikutnya: keluarga yang utuh. Lalu kenapa harus ada negara dengan konsep yang jelas? Ini erat kaitannya dengan kelangsungan nasib anak cucu kita di kemudian hari.

 

Masa depan harus dipersiapkan dan tidak bisa mengandalkan konsep 'gimana nanti'. Harus jelas, bahkan jika memungkinkan harus sampai pada 'titik koma'. Apalagi jika itu menyangkut masa depan sebuah negara. Konsep yang dibuat tentu harus jauh lebih baik dari sekedar konsep untuk individu. Peraturan, undang-undang dan kebijakan, semuanya harus bermuara pada sebuah konsep yang benar, pasti dan terarah. Dengan demikian, tidak akan terjadi keputusan atau kebijakan pemerintah yang 'sabulang bentor' alias 'ngawur' dan terkesan tanpa arah yang jelas. 

 

Reformasi menghembuskan sesuatu yang baru dan dielu-elukan semua orang: demokratisasi yang lebih baik. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk 'menajiskan' apa pun yang berasal dari masa lalu, terlepas dari apakah hal itu baik atau buruk. Pokoknya, tak ada tempat untuk masa lalu! Padahal, sikap seperti itu tentu saja sangat tidak konstruktif dan kekanak-kanakan. Sejarah, masa lalu, adalah ibarat cermin tempat kita mengevaluasi diri sekaligus belajar. Yang buruk kita buang, yang baiknya kita contoh.

 

Saya ingat waktu di SD dulu, pernah belajar apa yang disebut Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Dengan konsep seperti ini, maka pencapaian kinerja pemerintah (minimal secara teori) bisa diukur. Ada prioritas dan sasaran utama dalam setiap Repelita. Namun sayangnya, selepas tahun 1998 konsep itu tidak dipakai lagi karena dianggap 'warisan Orde Baru'. Padahal ini bukan soal orde baru, orde reformasi, atau orde peduli setan sekali pun, ini adalah soal memilih mana yang baik dan mana yang bermanfaat.

 

Lihatlah apa yang terjadi sekarang ini. Pemerintahan saat ini seperti kebingungan dan tidak tahu hendak melangkah ke mana. Banyak kebijakan yang seolah-olah diambil secara terburu-buru tanpa memikirkan akibat yang mungkin timbul. Selain itu, campur tangan asing (dalam hal ini Amerika) sangat terasa dalam berbagai kebijakan pemerintah. Kita menjadi bangsa kelas pembokat, yang nasibnya ditentukan oleh 'majikan'-nya. Privatisasi BUMN yang membahayakan stabilitas, integritas dan kedaulatan kita sebagai bangsa dan negara, kita amini tanpa pikir panjang. Dan ini adalah jelas-jelas konsep yang dijejalkan Amerika, demi kepentingan mereka sendiri.  

 

Lalu, sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung? Kita tidak tahu. Jika bernasib baik, mungkin sampai muncul kesadaran dari para pemimpin untuk benar-benar membuat rakyat Indonesia sejahtera. Atau kemungkinan buruknya: sampai negara ini benar-benar bangkrut digerogoti dari dalam dan dari luar. Mungkin sampai harga diri kita sebagai bangsa habis, tandas, tak tersisa. Mungkin.

27 Agustus 2008

Etika Menggunakan Handphone

Perkembangan telekomunikasi memang maju pesat, antara lain ditandai dengan semakin meluasnya penggunaan handphone. Hampir di setiap tempat kita bisa dengan mudah menemukan orang yang sedang "nyo'o" alias mengotak-atik handphone. Ada yang sedang nelpon, SMS, atau bahkan sedang main game. Meluasnya penggunaan handphone hingga ke pelosok ini disebabkan oleh semakin murahnya harga handphone dan segala aksesorisnya, mulai dari kartu perdana, tarif telepon, SMS, dll.
 
Di samping hal-hal yang sudah saya sebutkan tadi, ada lagi faktor penyebab meluasnya penggunaan handphone: LATAH. Melihat tetangga sudah punya handphone, kita tiba-tiba jadi begitu bernafsu untuk membeli. Melihat teman punya handphone model terbaru, kita jadi ikut-ikutan membeli. Kadang-kadang kita tidak berpikir apakah kita memang memerlukannya atau tidak. Yang penting, tidak ketinggalan trend. Akibat latah ini, seringkali kita kehilangan cara berpikir yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan. Kita sering jadi kormod (korban mode). Meskipun ini masih sedikit lebih baik daripada cumi (cuma minjem).
 
Oke lah, sekarang kita sudah terlanjur punya handphone. Kita sudah kuliti semua yang ada di buku petunjuk. Cara penggunaan, cara pemeliharaan, semua sudah kita hapal di luar kepala. Tapi kita kadang-kadang lupa satu hal, yang memang tidak pernah ada di buku manual handphone mana pun: etika.
 
Saya seringkali menemukan orang yang sedang ngobrol sambil asyik SMS. Anda bisa bayangkan, orang yang diajak bicara pasti akan merasa tidak nyaman, kalau tidak tersinggung. Pasalnya, dia pasti akan merasa kurang dihargai. Bayangkan jika Anda sendiri yang mengalami hal itu, kira-kira bagaimana perasaan Anda?
 
Yang lucu sekaligus menyebalkan, beberapa kali saya mendengar handphone yang berbunyi nyaring ketika sholat Jum'at! Bayangkan saat sedang berusaha khusyuk, tiba-tiba ada lagu The Massive, Titik Kamal, atau Inul Daratista di dalam mesjid. Bahkan tadi pagi, saat ikut sholat mayat salah satu kerabat dekat, berkumandanglah lagu 'I Love You Bibeh'-nya The Changcuters di dalam mesjid yang hening! Sungguh tidak sopan..
 
Mungkin Anda orang yang super sibuk dan sangat tergantung dengan alat komunikasi yang namanya handphone. Tapi tidak berarti bahwa kita boleh melupakan etika, karena hal itu akan mempengaruhi 'nilai' Anda di mata orang lain.
 
Berkut ini beberapa tips yang saya yakin Anda sudah mengetahuinya, tapi kadang-kadang lupa:
  1. Jangan pernah 'heri' (heboh sendiri) ber-SMS ria ketika sedang ngobrol dengan siapa pun. Toh Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena tidak SMS-an.
  2. Pada kesempatan-kesempatan tertentu seperti rapat, di tempat ibadah, di tempat orang meninggal, matikan handphone Anda. Kalau pun terpaksa dinyalakan, gantilah nada dering dengan getaran saja, agar Anda tetap bisa mengetahui jika ada telepon masuk, tanpa harus mengganggu suasana.
  3. Kalau terpaksa harus menerima telepon atau harus menjawab SMS dengan segera, mintalah ijin dengan sopan kepada orang yang sedang Anda ajak bicara, dan menjauhlah.  
Kelihatannya memang sepele, tapi akibatnya akan sangat fatal jika semua itu Anda abaikan. Jadi, pilihannya hanya dua: menjaga etika atau dicap norak!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More