21 November 2010

BERBURU TEMAN

Agak ngeri ya mendengarnya? Tapi tentu saja berburu di sini tidak seperti berburu di hutan. Tidak ada darah, tidak ada tembakan. Ini hanya istilah saya saja, melihat banyaknya orang yang berlomba-lomba menambah jumlah teman dalam friend list mereka di Facebook. Cuma kaget saja, soalnya orang yang bukan siapa-siapa, bukan artis, bukan selebritas, bisa memiliki ribuan teman dalam friend list mereka dalam waktu sekejap :)
 
Tapi bukankah peribahasa mengatakan memiliki 1000 teman masih kurang, dan memiliki musuh satu sudah terlalu banyak? Betuul, saya sangat setuju dalam hal ini. Tapi mari kita coba melihatnya secara lebih jernih. Jika dalam friend list Anda terdapat 1000 nama, kenalkah Anda dengan mereka semua? Maksud saya apakah Anda mengenalnya secara dekat layaknya seorang teman di dunia nyata? Silakan dijawab secara jujur dan tak perlu diucapkan. Simpan saja jawabannya dalam hati.
 
Saya tidak menafikan kenyataan bahwa banyak di antara teman-teman saya di dunia maya yang ternyata juga berkembang menjadi teman baik saya di dunia nyata. Tapi jika diprosentasikan, jumlahnya tidak lebih dari 10%. Sisanya adalah teman-teman lama ditambah teman-teman yang sekedar kenal nama, sekedar teman untuk ber "say hello", serta berbasa-basi alakadarnya. 
 
Lalu apa salahnya dengan hal itu? Sudah tentu tidak ada yang salah. Bukankah tadi juga sudah saya katakan bahwa memiliki 1000 teman itu masih kurang? Yang salah adalah jika menambah jumlah teman dalam friend list menjadi tujuan, demi mendapatkan pujian bahwa kita memiliki banyak teman, bahwa kita populer, bahwa kita terkenal, dsb. Jika Anda memiliki banyak teman karena sifat Anda membuat senang banyak orang, itu sebuah anugerah. Tetapi jika Anda berburu teman, meng-'add' orang secara membabi buta, maka dengan sangat menyesal Anda saya masukkan ke dalam kategori 'gila hormat', gila popularitas, norak, dan seterusnya.
 
Saya jadi teringat ketika pertamakali ngeblog beberapa tahun lalu. Saya ngeblog di blogspot, yang waktu itu masih versi lama. Blogspot memang tidak dirancang sebagai social network, dan lebih cenderung menjadi jurnal pribadi untuk menyalurkan keinginan menulis. Meski demikian, para pengguna blogspot juga, seperti juga di dunia nyata, berinisiatif mengembangkan sendiri jaringan sosial. Caranya tentu serba manual, karena situs blog ini memang tidak diperlengkapi dengan tool untuk menciptakan network.
 
Jika kita tertarik dengan tulisan seseorang di blog lain, dan ingin menjadikan pemilik blog itu sebagai teman, biasanya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu, baik melalui komentar di blognya, mau pun lewat email. Setelah itu baru kita mengutarakan niat kita untuk menambahkannya di blog roll kita. Seolah ada semacam kesepakatan tidak tertulis, orang yang namanya kita tambahkan di blog kita juga akan akan menambahkan nama blog kita di blog roll miliknya. Istilahnya adalah reciprocal link. Cara ini, selain mempererat pertemanan, juga dipercaya akan meningkatkan indeks blog masing-masing pada mesin pencari. Jangan lupa pula, proses menambahkan teman ke blogroll ini juga dilakukan secara manual.
 
Barangkali karena caranya yang agak ribet tadi maka pertemanan yang terjalin dengan cara ini lebih terasa erat. Hal yang sama juga terjadi jika kita menggunakan blog di wordpress, blogsome, atau yang lainnya. Baru setelah itu muncul blog dengan pendekatan social networking semacam Friendster atau juga Multiply. Meski proses menambah teman menjadi lebih mudah, namun penekanan utamanya masih lebih kepada fungsi blog sebagai jurnal pribadi. Memelihara kualitas konten masih menjadi 'dagangan' nomor satu. Maksud saya, semakin bagus dan menarik tulisan-tulisan kita, semakin mudah pula kita mendapatkan banyak teman.
 
Seiring perkembangan, muncullah apa yang dinamakan micro-blogging. Maksudnya kurang lebih ngeblog tapi isinya sangat ringkas. Kalau blogging konvensional melakukan update seminggu sekali saja sudah bagus, maka dengan micro-blogging update bisa dilakukan nyaris setiap saat. Dulu saya merasa nggak pede kalau menulis di blog hanya 10 atau 20 kalimat, dalam micro-blogging kita justru didorong untuk menulis sedikit saja. Micro-blogging ini dipopulerkan oleh antara Twitter dan Facebook. Selain menulis ringkas, micro-blogging ini juga difasilitasi dengan cara menambah jaringan (baca: teman) yang serba mudah dan otomatis. Tak ada lagi proses manual dalam menambah teman ke dalam friend list kita. Tinggal klik, semuanya beres.
 
Barangkali karena kemudahan inilah, maka kita sering menemukan apa yang saya sebut sebagai pemburu teman. Saya menduga bahwa tidak ada yang mereka lakukan selain menambah jumlah teman dalam friend list mereka. Anehnya, mereka yang tergolong pemburu teman ini sebagian besar adalah pemain baru, yang tidak pernah merasakan susahnya menambah teman di era blogging konvensional. Mereka yang sudah lama ngeblog kelihatannya malah tidak terlalu antusias untuk menambah friendlist mereka.
 
Lalu apakah kita tidak boleh menambah teman? Tentu saja sangat boleh. Semakin banyak teman, semakin berharga hidup kita di dunia ini. Yang penting, jangan menambah teman hanya untuk memajang nama mereka demi popularitas kita, agar dipuji sebagai orang yang memiliki banyak teman. Memiliki sedikit teman dengan kualitas pertemanan yang baik, akan lebih bermanfaat. Namun yang terbaik tentu saja jika kita memiliki banyak teman, dengan kualitas pertemanan yang juga baik, dan bukan sekedar teman yang dimanfaatkan untuk dipajang dalam friendlist kita.
 
Tulisan ini juga bisa Anda baca di http://www.facebook.com/kangtata/ 

09 November 2010

Pahlawankah Kita?

oleh: Tata Danamihardja
 
Apa sih definisi pahlawan? Jawabannya mungkin akan sangat beragam. Tapi buat saya sederhana: orang yang berjasa. Itu saja. Ya, itu saja, tanpa embel-embel ini itu. Jadi, pada prinsipnya, semua orang bisa jadi pahlawan. Orang tua yang membesarkan kita, tetangga yang sering membantu kita, para guru yang telah mengajar kita, teman-teman yang telah menyenangkan kita, tukang becak yang mau-maunya mengantar kita, sopir angkot yang menolong kita merasakan nikmatnya naik mobil tanpa harus membeli, dan sebagainya. Bahkan saya pun menjadi pahlawan bagi saya sendiri, karena saya berjasa telah berusaha menjadikan diri saya seperti sekarang ini.
 
Siapa bilang pahlawan itu tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apa-apa? Yang tidak pernah mengharapkan balasan hanya Allah Swt. Sementara manusia, sekecil apa pun pasti mengharapkan akibat yang baik dari apa yang dilakukannya. Bukankah berharap timbulnya akibat baik dari apa yang kita lakukan adalah pamrih? Saya mencari uang dengan harapan bisa bertahan hidup, tetap sehat, dan tidak tergantung kepada orang lain. Orang tua membesarkan kita dengan harapan anak-anaknya bisa mandiri dan hidup layak. Tukang becak mengantar kita, sudah jelas berharap dibayar, karena jika tidak, mana mau mereka mengantar kita sampai napasnya ngos-ngosan? Bahkan kita beribadah pun pasti dengan harapan - minimal- ibadah kita diterima.
 
Jadi secara prinsip, setiap orang adalah pahlawan. Yang membedakannya adalah kualitas dari kepahlawanan seseorang, berdasarkan pada akibat dari tindakan yang dilakukannya. Semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya, semakin tinggi pula tingkat kepahlawanannya. Orang tua saya mungkin bukanlah pahlawan bagi Anda, karena apa yang mereka lakukan tidak memberi manfaat apa-apa bagi diri Anda. Sebaliknya, bagi saya mereka adalah pahlawan besar karena telah menjadikan saya seperti sekarang ini. Para pejuang kemerdekaan adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya, bagi negara-negara yang menjajah kita, mereka adalah musuh yang harus ditumpas habis.
 
Maka, ketika gelar pahlawan menjadi sesuatu yang harus disahkan secara seremonial formal oleh penguasa, bagi saya pribadi hal itu merupakan penurunan derajat makna pahlawan. Apalagi jika yang terjadi adalah mengusulkan gelar pahlawan demi kepentingan politik, atau kepentingan-kepentingan dangkal lainnya. Mohammad Toha yang sampai sekarang tidak diakui negara sebagai pahlawan nasional, buat saya dan mungkin sebagian orang tetap seorang pahlawan. Kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia rasanya tak perlu diragukan lagi. Soal negera mengakui atau tidak, itu persoalan yang berbeda.
 
Makanya saya setuju dengan sikap Sultan Yogya yang menyatakan menolak gelar pahlawan bagi Sri Sultan Hamengkubuwono IX jika prosesnya adalah melalui pengajuan usulan dari keluarga. Pahlawan adalah pahlawan. Diakui negara atau tidak, tetap pahlawan. Meminta gelar pahlawan kepada pemerintah persis seperti kelakuan pengemis yang meminta sedekah. Pahlawan yang sesungguhnya hanya melakukan apa yang mereka anggap bisa mendatangkan kebaikan bagi sebanyak mungkin orang. Dan satu-satunya pamrih yang diharapkan pahlawan sejati adalah keridlaan Allah Swt.
 
Selamat merayakan Hari Pahlawan, sambil merenungkan apa yang sudah kita lakukan hingga saat ini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More