16 September 2009

Mudik Lagi

Puasa tinggal beberapa hari lagi. Di mana-mana suasana mulai terasa berbeda. Ada ritual tahunan yang selalu tak bisa dielakkan oleh sebagian besar umat Islam menjelang Lebaran: mudik. Sebuah ritual yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan tentu saja melibatkan biaya ekstra dalam jumlah yang cukup besar.
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik berarti pulang ke kampung halaman. Secara mendasar, sebetulnya sama sekali tak ada kaitan dengan aktivitas keagamaan. Tetapi, momentum Lebaran jelas menjadi pemicu terjadinya pergerakan besar-besaran menuju kampung halaman yang dilakukan setahun sekali. Ada berbagai alasan mengapa terjadi hal yang demikian.
 
1. Memanfaatkan Momentum
 
Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran merupakan kesempatan untuk bersilaturahim dengan sanak saudara baik yang jauh mau pun yang dekat. Meski silaturahim bisa saja dilakukan tanpa harus  bertemu muka, namun rasanya lebih afdol jika hal itu dilakukan secara fisik. Bertemu dengan keluarga dan teman-teman di kampung yang sudah sekian lama tidak bertemu, menjanjikan kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Maka berapa pun besarnya biaya yang harus dikeluarkan, aktivitas mudik akan terus dilakukan sepanjang masih memungkinkan.
 
2. Pameran Keberhasilan
 
Diakui atau tidak, mudik dan berkunjung kepada sanak saudara di kampung halaman, seringkali dijadikan ajang untuk memamerkan 'keberhasilan' para perantau. Maka tidak usah heran jika suasana Lebaran di berbagai tempat selalu diwarnai dengan simbol-simbol yang secara umum dimaknai sebagai sebuah keberhasilan. Mobil dan sepeda motor yang mengkilap, baju bagus, serta peredaran uang yang meningkat tajam untuk kebutuhan konsumtif. Soal apakah setelah itu harus pusing memikirkan utang, itu urusan lain. Demi sebuah kesan keberhasilan, orang rela berbuat apa saja.
 
3. Hasrat Untuk Berbagi
 
Setelah sekian lama tidak pulang kampung, ada semacam keinginan untuk berbagi hasil keringat dengan keluarga di kampung. Maka dalam kesempatan yang hanya setahun sekali ini, tak ada salahnya untuk berbagi rezeki dalam bentuk buah tangan untuk saudara-saudara di tempat kelahiran. Sambil bersilaturahim, sekalian juga bagi-bagi hadiah. Sayangnya, hal itu pula yang dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis. Menjelang Lebaran, para pedagang (besar, terutama) memberikan iming-iming diskon besar-besaran, yang entah benar demikian atau sekedar tipu-tipu bisnis. Akibatnya, mereka yang kurang bisa mengendalikan diri seringkali terbujuk dan mau memborong barang sebanyak-banyaknya. Alasannya, mumpung lagi diskon! Hasrat berbagi yang sebetulnya indah, akhirnya dicemari oleh semangat hedonisme yang sengaja ditiup-tiupkan oleh para pelaku bisnis.
 
Yang saya uraikan di atas sesungguhnya baru sebagian kecil dari sekian banyak motivasi yang mendorong terjadinya aktivitas mudik. Yang jelas, pergerakan jutaan manusia secara serempak ini menimbulkan berbagai masalah yang harus siap-siap kita hadapi. Kemacetan, adalah salah satu masalah yang mau tidak mau harus dihadapi oleh para pemudik. Selain itu, tentu saja biaya ekstra yang harus disiapkan, yang jumlahnya juga tidak sedikit. Belum lagi tenaga dan pikiran yang harus dipersiapkan baik sebelum mudik, pada saat di perjalanan, dan setelah mudik itu sendiri.
 
Jadi, mudik jelas bukan aktivitas main-main. Ia membutuhkan persiapan dan perencanaan matang yang sebaiknya dipersiapkan jauh-jauh hari. Biaya, stamina, dan rencana yang matang tadi diperlukan agar perjalanan mudik dan perjalanan balik menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan bukan sebaliknya. Pertanyaannya, sudah siapkah Anda?
 

05 September 2009

Kesalahan Berbahasa Media

Media, apa pun formatnya, baik itu cetak mau pun elektronik, seringkali dijadikan acuan atau panutan, karena fungsinya sebagai sumber informasi. Akibatnya, jika media melakukan kesalahan, maka kesalahan itu akan dengan sangat cepat menyebar, baik di kalangan sesama media mau pun di masyarakat. Berikut ini beberapa kesalahan kecil yang seringkali luput dari perhatian kita, karena sudah dianggap biasa.
 
1. Pengucapan kata pasca
 
Pengucapan yang benar adalah pasca (seperti mengucapkan kaca) dan bukan paska. Banyak yang menyangka bahwa kata pasca berasal dari bahasa Inggris, padahal kata pasca berasal dari bahasa Sanskerta, padanan dari kata post dalam bahasa Inggris, yang artinya setelah. Post-war diterjemahkan menjadi pasca-perang. Kesalahan pengucapan ini dilakukan oleh banyak kalangan: media (TV/radio), politisi, pejabat, artis dan orang biasa.
 
2. Pengucapan kata entertainment
 
Kata entertainment masih sangat sering dipergunakan di media, meskipun sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yakni hiburan. Yang menjadi persoalan adalah banyak sekali pemandu acara (host) yang mengucapkan entertaiment dan bukannya entertainment. Kesalahan kecil berupa hilangnya huruf N di tengah-tengah ini sangat terasa mengganggu di telinga kita.
 
3. Struktur kalimat yang kacau balau
 
Kesalahan seperti ini menyebar di media cetak maupun radio/televisi. Misalnya: Menurut Kapolri dalam konferensi pers kemarin menyatakan, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap. Sepintas kalimat ini seperti tidak mengandung kesalahan. Tetapi coba kita amati, yang manakah subjek dari kalimat tadi? Jawabannya, tidak ada. Kalau saja kata menurut di awal kalimat dihilangkan, maka subjek kalimat tersebut adalah kapolri. Tapi gara-gara kata menurut di awal kalimat, maka struktur gramatikal kalimat ini menjadi kacau. Kalau ingin tetap menuliskan kata menurut di awal kalimat, maka kata menyatakan harus dihilangkan. Perhatikan kalimat yang sudah saya ubah di bawah ini.
 
Kapolri, dalam konferensi pers kemarin menyatakan, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap.
 
atau
 
Menurut Kapolri dalam konferensi pers kemarin, teroris yang telah lama dicari berhasil ditangkap.
 
Kesalahan kecil, jika dibiarkan dan akhirnya menjadi kebiasaan, akan dianggap benar. Jadi, alangkah baiknya jika kita memperbaikinya sedini mungkin, sebelum kesalahan seperti ini berubah menjadi 'kebenaran'.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More