25 September 2008
Bu Tunduh: Pembela Mahasiswa Dhuafa
21 September 2008
Download di Ziddu? Kayaknya Nggak Deh..
20 September 2008
BERTARUH NYAWA DEMI 30 RIBU RUPIAH
Kaget, ngeri, sedih, marah. Itu yang terasa ketika mendengar 21 saudara kita di Pasuruan meninggal gara-gara mengantri pembagian zakat senilai 30 ribu rupiah. Orang miskin memang selalu tidak punya pilihan, sekaligus selalu berada dalam posisi yang riskan. Demi uang yang jumlahnya 'tidak seberapa' menurut ukuran kita, mereka rela menyabung nyawa karena memang tidak ada pilihan lain. Berdesakan di antara jejalan ribuan orang, kehabisan oksigen, terinjak-injak, adalah resiko yang mau tidak mau harus mereka hadapi, demi mendapatkan uang yang di mata mereka sangat berarti. Bayangkan, semua itu terjadi di tengah terik matahari, di saat sebagian besar dari ribuan pengantri tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.
Yang mengenaskan, ada kesan saling lempar tanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut. Pengusaha yang membagi-bagikan zakat berkilah bahwa pembagian zakat seperti itu telah berlangsung sejak tahun 1975 dan baru kali ini ada kejadian orang meninggal. Pihak berwenang yang tidak tampak batang hidungnya pada saat insiden terjadi beralasan bahwa pihak penyelenggara pembagian zakat tidak berkoordinasi dengan mereka.
Padahal, jika mau berpikir logis dan rasional, semua pihak seharusnya melakukan persiapan yang matang, mengingat kegiatan pembagian zakat ini melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Pihak penyelenggara seharusnya mengajukan permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian setempat. Selain itu juga mempersiapkan panitia dalam jumlah yang mencukupi, jangan sampai ketika terjadi insiden malah menyuruh orang yang mengantri untuk untuk mengantar pasien yang terinjak-injak ke rumah sakit menggunakan becak!
Sementara itu, pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga harus proaktif. Meski penyelenggara tidak mengajukan izin, mereka seharusnya mengingatkan penyelenggara untuk mentaati peraturan. Kalau perlu, bubarkan saja penyelenggaraan kegiatan tanpa izin, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai, karena alasan bahwa pihak penyelenggara tidak mengajukan izin, kepolisian tidak mau tahu. Masa sih, konsentrasi massa berkapasitas ribuan luput dari perhatian kepolisian. Sangat tidak etis dan bahkan biadab, ketika sudah terjadi insiden, semua pihak seolah-olah cuci tangan, tidak mau bertanggung jawab.
Kalau mau lebih aman, ada baiknya mereka yang mau menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh, dll., meminta bantuan lembaga-lembaga penyalur zakat yang manajemennya lebih profesional. Sekarang banyak kok lembaga penyalur zakat swasta yang kredibel dan bisa dipercaya, disamping BAZNAS milik negara. Berbagi adalah tindakan mulia. Tetapi jangan sampai tujuan yang indah tersebut harus memakan korban, yang sebetulnya bisa dihindari jika pelaksanaannya dilakukan secara profesional.
Atau, jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan orang miskin di negeri ini. Jangan-jangan sinyalemen bahwa orang miskin hanya menjadi objek bagi kepentingan-kepentingan tertentu memang benar adanya. Jika memang demikian, maka Indonesia pantas menangis.
REPUBLIK TANPA KONSEP
Berbahagialah mereka yang memiliki segalanya di dunia ini: pribadi yang mapan, keluarga yang utuh, dan negara dengan konsep yang jelas. Pribadi yang mapan jelas penting demi kelangsungan hidup secara individu. Ini adalah modal untuk meniti tahap berikutnya: keluarga yang utuh. Lalu kenapa harus ada negara dengan konsep yang jelas? Ini erat kaitannya dengan kelangsungan nasib anak cucu kita di kemudian hari.
Masa depan harus dipersiapkan dan tidak bisa mengandalkan konsep 'gimana nanti'. Harus jelas, bahkan jika memungkinkan harus sampai pada 'titik koma'. Apalagi jika itu menyangkut masa depan sebuah negara. Konsep yang dibuat tentu harus jauh lebih baik dari sekedar konsep untuk individu. Peraturan, undang-undang dan kebijakan, semuanya harus bermuara pada sebuah konsep yang benar, pasti dan terarah. Dengan demikian, tidak akan terjadi keputusan atau kebijakan pemerintah yang 'sabulang bentor' alias 'ngawur' dan terkesan tanpa arah yang jelas.
Reformasi menghembuskan sesuatu yang baru dan dielu-elukan semua orang: demokratisasi yang lebih baik. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk 'menajiskan' apa pun yang berasal dari masa lalu, terlepas dari apakah hal itu baik atau buruk. Pokoknya, tak ada tempat untuk masa lalu! Padahal, sikap seperti itu tentu saja sangat tidak konstruktif dan kekanak-kanakan. Sejarah, masa lalu, adalah ibarat cermin tempat kita mengevaluasi diri sekaligus belajar. Yang buruk kita buang, yang baiknya kita contoh.
Saya ingat waktu di SD dulu, pernah belajar apa yang disebut Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Dengan konsep seperti ini, maka pencapaian kinerja pemerintah (minimal secara teori) bisa diukur. Ada prioritas dan sasaran utama dalam setiap Repelita. Namun sayangnya, selepas tahun 1998 konsep itu tidak dipakai lagi karena dianggap 'warisan Orde Baru'. Padahal ini bukan soal orde baru, orde reformasi, atau orde peduli setan sekali pun, ini adalah soal memilih mana yang baik dan mana yang bermanfaat.
Lihatlah apa yang terjadi sekarang ini. Pemerintahan saat ini seperti kebingungan dan tidak tahu hendak melangkah ke mana. Banyak kebijakan yang seolah-olah diambil secara terburu-buru tanpa memikirkan akibat yang mungkin timbul. Selain itu, campur tangan asing (dalam hal ini Amerika) sangat terasa dalam berbagai kebijakan pemerintah. Kita menjadi bangsa kelas pembokat, yang nasibnya ditentukan oleh 'majikan'-nya. Privatisasi BUMN yang membahayakan stabilitas, integritas dan kedaulatan kita sebagai bangsa dan negara, kita amini tanpa pikir panjang. Dan ini adalah jelas-jelas konsep yang dijejalkan Amerika, demi kepentingan mereka sendiri.
Lalu, sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung? Kita tidak tahu. Jika bernasib baik, mungkin sampai muncul kesadaran dari para pemimpin untuk benar-benar membuat rakyat Indonesia sejahtera. Atau kemungkinan buruknya: sampai negara ini benar-benar bangkrut digerogoti dari dalam dan dari luar. Mungkin sampai harga diri kita sebagai bangsa habis, tandas, tak tersisa. Mungkin.
08 September 2008
Kartu Lebaran Abadi



