08 Februari 2008

AWAS, JAGA JARAK

oleh: Tata Danamihardja
 
Pernah melihat dua kata tersebut di jalanan? Biasanya, atau paling tidak saya pernah melihatnya, di pantat truk. Kalau nggak biasanya ada di belakang mobil milik kursus mengemudi. Maksudnya semacam peringatan agar Anda menjaga kendaraan Anda dalam pada jarak tertentu dengan kendaraan tersebut, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
 
Jaga jarak juga seringkali diperlukan dalam pergaulan atau pun komunikasi sosial. Hanya saja, sesehat apa pun mata Anda, tetap tidak akan pernah melihat tulisan tersebut terpampang di kepala, mata, atau bahkan baju  orang lain. Selain dirasa kurang sopan, secara teknis juga agak ribet. Untungnya, manusia dibekali kepekaan (sensitifitas) rasa untuk membaca situasi, sehingga kita bisa mengira-ngira kapan saatnya untuk menjaga jarak.
 
Jika Anda harus berpidato atau menjadi pembicara dalam suatu forum misalnya, Anda bisa mengetahui kapan saatnya 'jaga jarak' dengan cara membaca isyarat-isyarat yang terlihat dari audience Anda. Misalnya, ketika audience mulai terlihat resah, menguap, ngobrol dengan temannya dll., maka sudah saatnya Anda waspada dan melakukan sesuatu. Bisa dengan mengeluarkan joke (yang tidak 'garing' tentunya), melakukan interaksi yang menarik, atau bahkan berhenti bicara.
 
Dalam komunikasi yang lebih personal, juga berlaku hal yang sama. Jika Anda sedang ngobrol dengan teman Anda, perhatikan baik-baik apakah dia masih 'naturally' tertarik dengan obrolan Anda, atau sekedar pura-pura tertarik hanya untuk menjaga perasaan Anda. Kalau intuisi Anda menangkap isyarat yang kedua, maka sudah saatnya untuk menarik diri dengan cara mengganti topik atau memberi kesempatan lawan bicara Anda untuk memegang kendali pembicaraan, sebelum dia terlanjur kesal.
 
Bagaimana dengan komunikasi yang tidak langsung (face-to-face)? Sama saja. Kalau Anda selama beberapa waktu berkomunikasi secara intens melaui telepon, email, chat, atau bahkan mailing list, Anda tetap bisa mengukur dan menangkap isyarat dari partner komunikasi Anda dengan menggunakan kepekaan tadi. Jika jawaban teman Anda (misalnya via email, SMS, dll.) mulai pendek-pendek, atau bahkan tidak dibalas sama sekali, bisa jadi itu merupakan isyarat bahwa Anda mungkin terlalu 'agressif' dalam berkomunikasi. Atau jika teman Anda biasa ngobrol dengan gaya nyablak tiba-tiba jadi terasa kaku dan formal, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri Anda. Dan lagi-lagi itu berarti Anda harus mulai mengerem 'agresifitas' Anda.
 
Memang tidak selamanya kepekaan rasa dan/atau intuisi ini tepat. Kadang-kadang bisa juga meleset. Belum tentu respons yang kita anggap sebagai isyarat kebosanan itu benar adanya. Bisa saja jawaban pendek-pendek atau bahkan tidak menjawab itu disebabkan oleh kesibukan, atau mungkin juga partner komunikasi Anda sedang menghadapi masalah pribadi yang butuh perhatian penuh. Atau bisa saja yang bersangkutan sedang melakukan program 'pengetatan ikat pinggang' dengan cara memangkas biaya-biaya yang bukan prioritas. Namun tentu akan lebih baik jika kita bisa mencegah rusaknya pertemanan gara-gara kita dianggap membosankan. Siapa tahu memang demikian :-) Dengan menarik diri pada saat yang tepat, kita telah menyelamatkan hubungan pertemanan, sekaligus menjaga kredibilitas diri kita.
 
Saya mungkin termasuk yang 'hyper-sensitive' untuk urusan yang satu ini. Sedikit saja saya menangkap isyarat seperti yang saya uraikan di atas, mental saya biasanya langsung mengkeret. Itu sebabnya saya seringkali gelisah ketika harus nebeng mobil orang, apalagi jika orangnya tidak saya kenal baik. Biasanya saya lebih memilih naik angkot, atau kalau tidak punya uang, ya jalan kaki saja jika masih memungkinkan. Entah apakah ini karena didikan orang tua saya yang termasuk kaum 'marjinal' soal kebendaan, atau atau karena saya sendiri berbakat 'hyper-sensitive', atau mungkin juga dua-duanya. Saya tidak tahu persis.
 
Yang jelas, saya jadi teringat nasihat almarhum ibu saya, "Jangan terlalu sering bertamu ke rumah orang, meskipun dia mengundangmu datang setiap hari. Itu dia lakukan karena kau jarang datang. Coba kau datang setiap hari, dia pasti bosan." Sebuah nasihat sederhana, yang kadang-kadang saya langgar juga. Tetapi logika saya mengakui 100% bahwa hal itu benar adanya.
 
Maka jika saya balik lagi ke soal 'sign' bertuliskan JAGA JARAK di pantat truk tadi, saya harus selalu siap untuk menginjak rem dan introspeksi ke dalam. Siapa tahu ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Kalaupun toh intuisi saya yang salah, jaga jarak tetap perlu dilakukan sewaktu-waktu. Bukankah Lebaran pun ditunggu-tunggu dan terasa nikmatnya karena datangnya hanya setahun sekali?
 
Panjalu, 8 Februari 2008

03 Februari 2008

DEBU-DEBU

Ketika pusaran angin menghentakkan setiap kesadaran ke titik nadir, maka terciptalah sebuah gerakan kolektif yang sangat robotik. Seakan tak ada lagi hasrat murni pribadi yang tak terkungkung dalam pusaran kolektivitas kegenitan, yang tanpa ampun menelanjangi setiap titik kesadaran sekecil apapun. Semua tenggelam dalam harapan-harapan arus besar mesin raksasa yang menggerus debu-debu berukuran nano yang mengerubunginya. Pilihannya hanya satu (dan itu artinya bukan pilihan): yang tak mau ikut, mampuslah!
 
Begitu dahsyatnya sang raksasa kota besar mencengkeram jiwa-jiwa kehausan dengan cakar-cakarnya yang begitu kukuh, sehingga mampu membunuh segala cita-cita ideal yang dulu diyakini sebagai sesuatu yang mulia. Tak ada lagi janji-janji luhur yang dulu pernah mengantarkan mereka ke pusaran ini. Tak ada. Yang ada hanya semua yang serba seragam, menuju satu titik yang sesungguhnya tak seorangpun tahu ada di mana. Yang tersisa hanya lenguhan dan erangan jiwa-jiwa kering kehausan, sibuk mencari entah apa, yang mereka sendiri tidak tahu dan bahkan tidak diyakini ada.
 
Maka ketika setitik kesadaran yang tersisa mengetuk dinding nurani dengan kelelahan yang amat sangat, segala kekuatan cinta seolah menjadi tuli. Tak ada lagi puteri yang terbangun dari tidur oleh ciuman sang pangeran. Tak ada lagi pangeran yang menyamar jadi kodok. Semua transparan, sekaligus gelap. Semua berputar-putar dalam gerakan mekanis yang tak mampu lagi dilawan, bahkan oleh tekad yang paling kuat sekali pun. Kerangkeng hedonis memenjarakan otak dan pikiran: hari ini makan apa, hari ini makan siapa?
 
Seperti tertulis dalam Dust in The Wind: All we are is dust in the wind. Ya, kita hanyalah debu dalam angin.  Debu-debu yang tercerabut, yang bahkan tak mampu menguasai jiwanya sendiri.
 
Aku menggigil, jadi saksi pertunjukan teater besar yang sangat memilukan.
 
Jakarta, 31 Januari 2008

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More