22 Januari 2008

Mengintip 74 Tulisan Tata (FREE)

Mengintip 74 Tulisan Tata
Meski kadang meleset, konon, pribadi seseorang bisa diintip lewat tulisan-tulisannya. Tentu tidak mutlak, tapi paling tidak, gambaran besarnya ada di situ. Demikian juga dengan ebook ini.
 
Kalau Anda terbiasa membaca tulisan yang 'berat-berat', cobalah sekali-sekali membaca tulisan 'kelas kambing' seperti ini. Siapa tahu, 74 tulisan dalam ebook ini bisa menjadi alternatif yang menyenangkan.
 
Ya, siapa tahu :-)
 

10 Januari 2008

Selamat Tahun Baru Hijriyah!

1 Muharam 1429 Hijriyah, atau bertepatan dengan 10 Januari 2007, umat Islam di seluruh dunia menyambut tahun baru menurut perhitungan Islam. Di Indonesia sendiri, baru belakangan terlihat geliat semangat untuk 'merayakan' tahun mereka sendiri di kalangan umat Islam. Sebelumnya, kalau pun ada, selalu tenggelam di balik hingar bingar perayaan tahun baru Masehi. Padahal waktunya tidak selalu berdekatan seperti yang kebetulan terjadi tahun ini.
 
Kurang populernya tahun baru Islam (Hijriyah) di Indonesia, tidak lepas dari kebijakan pemerintah di masa lalu yang seperti phobia terhadap segala sesuatu yang bernuansa Islam. Orang Islam dijauhkan dari ajaran mereka sendiri, apalagi jika itu dianggap akan 'merongrong' kewibawaan pemerintah. Bahkan menjalankan syariat seperti menggunakan jilbab saja, dulu, dilarang di sekolah-sekolah umum. Entah apakah sekarang untuk pas foto di ijasah masih 'harus kelihatan telinga' ( artinya membuka jilbab bagi yang menggunakannya) atau tidak.
 
Tahun baru Hijriyah, tidak wajib dirayakan dalam Islam. Bahkan merayakan pun bisa menjadi dosa, jika itu dilakukan secara berlebih-lebihan. Yang lebih penting adalah, bagaimana menjadikan tahun baru ini sebagai awal langkah baru dalam menapak kehidupan yang lebih baik. Tapi merayakan juga tidak dilarang, asal tidak berlebihan, dan lebih kepada tujuan-tujuan syiar agama. Agar orang lain menjadi mafhum bahwa Islam itu ada, dan bahwa orang Islam itu menghargai keberadaan diri mereka sendiri berikut segala atributnya.
 
Ini menjadi penting, untuk menunjukkan kepada siapa pun bahwa Islam itu tidak seperti yang dicitrakan oleh mereka yang membenci Islam. Kalau Islam dicitrakan sebagai teroris, maka tunjukkan bahwa kita bukan teroris. Kalau Islam dicitrakan sebagai agama yang ditegakkan dengan pedang, tunjukkan bahwa Islam tidak seperti itu.
 
Syiar ke luar, khususnya dalam membentuk citra positif yang selama ini dirusak oleh mereka yang tidak suka dengan Islam, tidak akan tercapai jika di dalam diri kita sendiri secara pribadi tidak diperbaiki. Maka, memperbaiki diri menjadi penting dan patut dijadikan salah satu target yang harus dicapai di tahun mendatang. Oleh karena itu, mari kita tekadkan untuk menjadikan momentum tahun baru ini sebagai titik awal untuk menimbang kembali angkah-langkah kita sebelumnya, dan menjadikannya bahan untuk perbaikan langkah ke depan. Amiin.
 
Selamat Tahun Baru (lagi).

07 Januari 2008

Renungan Awal Tahun

Ritual tahunan, merayakan tahun baru Masehi, entah kenapa, seperti menjadi tradisi yang makin melekat kuat di masyarakat. Padahal, tidak ada korelasi langsung antara kehidupan sebagian besar masyarakat kita dengan tahun baru Masehi.
 
Barangkali, tahun baru hanya sebuah momentum yang diklaim banyak orang sebagai awal dari sebuah rentang waktu, untuk melakukan pencapaian-pencapaian tertentu. Itu pun bagi saya hanya sebuah statement ideal, karena pada praktiknya, perayaan tahun baru hanya sebatas eskapsi sementara dari berbagai persoalan hidup yang semakin terasa berat. Selepas itu, orang kembali pada rutinitas dan bahkan seringkali tidak peduli apakah ada target yang harus dicapai atau tidak.
 
Kita terlalu sibuk untuk sekedar menelisik diri sendiri. Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup kerap membuat kita tak sempat untuk merenung, menghitung dan menimbang kemajuan atau kemunduran perilaku kita. Semangat hedonis dan pemujaan terhadap materi bendawi sering membutakan mata hati kita bahwa ada sisi lain dalam diri kita yang terlupakan.
 
Jika ukuran sukses adalah materi, maka banyak sekali orang yang telah meraihnya dengan gemilang. Salahkah mengukur sukses dengan takaran materi? Tentu tidak, karena keberhasilan mengumpulkan harta juga merupakan salah satu tolok ukur sukses. Yang salah adalah melihatnya hanya dari satu dimensia dan mengukurnya hanya dengan satu parameter. Padahal banyak parameter lain yang juga bisa dan bahkan harus digunakan untuk mengukur sukses. Kepekaan sosial, kesalehan beragama, adalah dua di antara sekian banyak hal yang patut juga dijadikan ukuran sukses.
 
Hanya saja, jika sukses diukur dengan harta, menghitungnya jauh lebih mudah, karena mengandalkan angka-angka yang tak sulit untuk dikalkulasi. Lalu bagaimana jika kita ingin mengukur sukses dengan kepekaan sosial atau kesalehan beragama? Meskipun tidak menggunakan angka, tetap harus ada kalkulasinya. Kuncinya cuma satu: kejujuran. Jujurlah pada diri sendiri: apakah kepekaan sosial kita mengalami peningkatan? Apakah sholat kita (untuk muslim) sudah tidak bolong-bolong lagi? Apakah kewajiban menyisihkan sebagian harta yang kita peroleh sudah dipenuhi? Sekedar mengingatkan, dalam rezeki yang kita terima, ada hak orang lain yang tidak boleh kita makan.
 
Intinya, sukses itu memiliki lebih dari satu dimensi. Dan untuk bisa disebut sukses, maka semua dimensi itu harus terukur, dikalkulasi, dan ditakar. Jika semua dimensi itu memiliki kualitas yang seimbang, maka berbahagialah Anda, karena lemungkinan besar sukses ada di tangan Anda.
 
Kalau tahun baru ini dijadikan momentum untuk 'berhitung', menakar kualitas diri, maka tidak ada yang salah dengan itu. Tahun baru, bukan sekedar pesta, menghamburkan uang, malakukan hal-hal yang tidak perlu, sementara di sekitar kita masih banyak orang yang perutnya lapar, anak-anaknya tidak sekolah, dan bahkan tinggal di emperan toko atai di kolong-kolong jembatan. Rasanya akan jauh lebih bijak jika kesempatan awal tahun ini kita gunakan untuk merenung, melakukan kontemplasi, sebelum dihitung oleh yang Maha Menghitung.
 
Panjalu, Januari 2008.

04 Januari 2008

Ke Yogyakarta

Pertengahan Desember 2007 lalu, saya 'dipaksa' untuk melawat ke tempat Sultan. Maksud saya, Yogyakarta. Saya bilang 'dipaksa' karena sebetulnya saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tapi untuk menolak, nggak enak juga, karena sudah beberapa kali ajakan itu saya tolak. Maka, tak ada alasan lagi untuk berkelit, jadilah saya berangkat ke kota yang sudah belasan tahun tidak saya kunjungi.

Sebagai tempat tujuan wisata, Yogyakarta memang nggak ada matinya. Banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas hidup yang seringkali membuat kita suntuk. Refreshing, kira kira semacam itulah. Dengan suasana yang berbeda, atmosfir yang berbeda, mudah-mudahan energi yang telah terkuras oleh rutinitas bisa kembali fresh.

Mengintip masa lalu...
Dari sekian banyak tempat yang bisa dipilih untuk dikunjungi, Borobudur tetap menjadi pilihan favorit. Meski telah beberapa kali berkunjung ke sana, orang biasanya tetap akan datang dan datang lagi. Seolah-olah ada magnet dari masa silam yang menarik orang untuk datang kembali dan mengagumi keperkasaan leluhur kita dulu. Bayangkan, di zaman yang diperkirakan belum mengenal teknologi canggih seperti sekarang, orang-orang dari zaman Syailendra sudah bisa membuat bangunan luar biasa berupa candi yang sangat megah


Sayangnya keinginan untuk menikmati suasana masa lalu ini sangat terganggu dengan kehadiran pedagang asong yang sangat agrresif menawarkan dagangannya. Selain itu, pengaaturan pintu keluar dari kawasan Borobudur yang diatur sedemikian rupa sehingga kita 'dipaksa' untuk berputar-putar melewati kios-kios pedagang cendera mata, terasa sangat melelahkan. Jarak yang sesungguhnya dekat dari kawasan candi menuju pintu keluar menjadi lebih jauh beberapa kali lipat!

Di urutan kedua, orang biasanya memilih keraton. Daya tarik keraton barangkali terletak pada soal konservasi budaya, termasuk budaya politik khas keraton, yang sampai saat ini masih dipertahankan. Berbeda dengan di wilayah Pasundan, bekas-bekas kerajaan di Jawa Tengah termasuk di Yogyakarta ini masih jelas jejak-jejaknya. Berbagai peninggalan dan warisan zaman keemasan kerajaan-kerajaan di Jawa masih ada. Keraton, candi-candi dan lain-lain masih bisa kita lihat keberadaannya hingga saat ini.

Sebetulnya masih banyak yang bisa dikunjungi. Namun keterbatasan waktu dan keterbatasan energi, membuat kita harus pandai-pandai memilih dan membatasi tempat yang akan dikunjungi. Jangan sampai tujuan kita untuk refreshing malah tidak tercapai karena kita justru kecapekan. Bukannya refreshed, yang ada malah exhausted :-)

Yang menarik sekaligus menjadi pengalaman berharga adalah pertemuan saya dengan sastrawan dan budayawan Sunda Ajip Rosidi. Pak Ajip yang sudah kelihatan agak sepuh di usianya yang ke 70, saat ini tidak lagi mengajar di Jepang dan memilih tinggal bersama sang istri di kawasan Pabelan Yogyakarta. Bersama Bu Empat, sang istri yang juga berusia 70 namun masih kelihatan sehat dan enerjik, Pak Ajip mengelola 'Saung Makan Bu Empat' tidak jauh dari rumahnya.
Posing bersama Pak Ajip Rosidi (tengah)

Rumah makan yang berlokasi di kawasan berhawa sejuk itu ditata berupa saing saung asri yang terbuat dari bambu beratap ijuk. Di belakang saung-saung itu mengalir sungai kecil yang bersumber dari mata air milik Pak Ajip di sekitar kebun salak pondoh yang juga miliknya. Menurut Bu Empat, di belakang kebun itu juga terdapat tambak udang milik beliau yang menjadi pemasok menu utama di rumah makan tersebut, udang bakar saus tiram yang lezat.

Rasa lelah setelah perjalanan panjang ternyata ditutup dengan pertemuan yang mengesankan. Keramahan khas Sunda dari pasangan budayawan ini membuat saya serasa berada di tanah Parahyangan. Mereka bahkan menemani kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul, tentu saja menggunakan bahasa Sunda. Suasana akrab sangat terasa, apalagi setelah Pak Ajip mengetahui bahwa saya dan kakak saya juga penggemar tulisan-tulisan beliau.

Di tengah hujan rintik-rintik yang turun sore itu, kami akhirnya harus berpisah. Pak Ajip membekali kami tiga eksemplar majalah berbahasa Sunda 'Cupumanik' yang dikelolanya, dan Bu Empat membekali kami dengan sekantung besar salak pondoh yang manis, for free!

Selamat Datang di Buka Mulut versi BARU!

Blog ini adalah Buka Mulut versi baru. Mulai saat ini, semua posting Buka Mulut akan ditulis di sini. Untuk mengakses arsip terdahulu, silakan kunjungi Buka Mulut versi lama.

Admin Buka Mulut


Tata Danamihardja

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More