28 Agustus 2008

Jadwal Puasa di 2198 Kota

Menyambut bukan Ramadhan 1429 Hijriyah, tentu harus dengan persiapan yang matang baik fisik mau pun mental, agar puasa kita mendekati sempurna. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan jadwal puasa sesuai dengan letak geografis kota tempat ada berdomisili.
 
Untuk itu, saya punya Jadwal Imsakiyah untuk 2198 kota besar dan kecil dunia (mulai dari Aalborg di Denmark sampai Zurich di Swiss), termasuk di Indonesia seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, Ciamis, Tasik, Binjai, Bireun, Garut, Kuningan, Bima, Cirebon serta ratusan kota lainnya. Jadi di mana pun Anda tinggal, di Indonesia mau pun di luar negeri, jadwal ini selalu sesuai untuk Anda.
Jadwal Puasa di 2198 Kota Gratis!
Uniknya, jadwal ini bukan jadwal sekali pakai, melainkan bisa terus Anda gunakan untuk tahun-tahun berikutnya. Caranya, Anda tinggal mengganti tahunnya, maka jadwal akan berganti sesuai dengan tahun yang Anda pilih.
 
Syaratnya cuma satu, Anda harus memiliki Microsoft Excel di komputer Anda karena jadwal ini dibuat dalam format tersebut.
 
Jadwal Imsakiyah Abadi bisa Anda download GRATIS di:

27 Agustus 2008

Etika Menggunakan Handphone

Perkembangan telekomunikasi memang maju pesat, antara lain ditandai dengan semakin meluasnya penggunaan handphone. Hampir di setiap tempat kita bisa dengan mudah menemukan orang yang sedang "nyo'o" alias mengotak-atik handphone. Ada yang sedang nelpon, SMS, atau bahkan sedang main game. Meluasnya penggunaan handphone hingga ke pelosok ini disebabkan oleh semakin murahnya harga handphone dan segala aksesorisnya, mulai dari kartu perdana, tarif telepon, SMS, dll.
 
Di samping hal-hal yang sudah saya sebutkan tadi, ada lagi faktor penyebab meluasnya penggunaan handphone: LATAH. Melihat tetangga sudah punya handphone, kita tiba-tiba jadi begitu bernafsu untuk membeli. Melihat teman punya handphone model terbaru, kita jadi ikut-ikutan membeli. Kadang-kadang kita tidak berpikir apakah kita memang memerlukannya atau tidak. Yang penting, tidak ketinggalan trend. Akibat latah ini, seringkali kita kehilangan cara berpikir yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan. Kita sering jadi kormod (korban mode). Meskipun ini masih sedikit lebih baik daripada cumi (cuma minjem).
 
Oke lah, sekarang kita sudah terlanjur punya handphone. Kita sudah kuliti semua yang ada di buku petunjuk. Cara penggunaan, cara pemeliharaan, semua sudah kita hapal di luar kepala. Tapi kita kadang-kadang lupa satu hal, yang memang tidak pernah ada di buku manual handphone mana pun: etika.
 
Saya seringkali menemukan orang yang sedang ngobrol sambil asyik SMS. Anda bisa bayangkan, orang yang diajak bicara pasti akan merasa tidak nyaman, kalau tidak tersinggung. Pasalnya, dia pasti akan merasa kurang dihargai. Bayangkan jika Anda sendiri yang mengalami hal itu, kira-kira bagaimana perasaan Anda?
 
Yang lucu sekaligus menyebalkan, beberapa kali saya mendengar handphone yang berbunyi nyaring ketika sholat Jum'at! Bayangkan saat sedang berusaha khusyuk, tiba-tiba ada lagu The Massive, Titik Kamal, atau Inul Daratista di dalam mesjid. Bahkan tadi pagi, saat ikut sholat mayat salah satu kerabat dekat, berkumandanglah lagu 'I Love You Bibeh'-nya The Changcuters di dalam mesjid yang hening! Sungguh tidak sopan..
 
Mungkin Anda orang yang super sibuk dan sangat tergantung dengan alat komunikasi yang namanya handphone. Tapi tidak berarti bahwa kita boleh melupakan etika, karena hal itu akan mempengaruhi 'nilai' Anda di mata orang lain.
 
Berkut ini beberapa tips yang saya yakin Anda sudah mengetahuinya, tapi kadang-kadang lupa:
  1. Jangan pernah 'heri' (heboh sendiri) ber-SMS ria ketika sedang ngobrol dengan siapa pun. Toh Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena tidak SMS-an.
  2. Pada kesempatan-kesempatan tertentu seperti rapat, di tempat ibadah, di tempat orang meninggal, matikan handphone Anda. Kalau pun terpaksa dinyalakan, gantilah nada dering dengan getaran saja, agar Anda tetap bisa mengetahui jika ada telepon masuk, tanpa harus mengganggu suasana.
  3. Kalau terpaksa harus menerima telepon atau harus menjawab SMS dengan segera, mintalah ijin dengan sopan kepada orang yang sedang Anda ajak bicara, dan menjauhlah.  
Kelihatannya memang sepele, tapi akibatnya akan sangat fatal jika semua itu Anda abaikan. Jadi, pilihannya hanya dua: menjaga etika atau dicap norak!

24 Agustus 2008

Antologi Puisi: Pesan Ombak Padjadjaran

Ebook antologi puisi memang susah dicari. Mitos itu yang ingin saya patahkan. Maka, saya persembahkan ebook antologi puisi 'Pesan Ombak Padjadjaran' untuk Anda, gratis.

Pesan Ombak Padjadjaran adalah kumpulan puisi karya para penikmat puisi di GSSTF Unpad Bandung di tahun 1993. Yang menarik, 185 karya yang muncul dalam antologi ini ditulis tidak hanya oleh mereka yang masih aktif di GSSTF pada saat itu, melainkan juga para 'veteran' yang sudah tersebar di berbagai kota, tidak hanya di Bandung.



Sebagai sebuah kado ulang tahun, puisi tidak akan berhenti pada kesempatan yang terbatas. Kado semacam ini akan membawa pesan yang mungkin akan bertahan agak lama, bahkan kalau bisa: selama-lamanya. Paling tidak itu yang diungkapkan oleh Eka Budianta, sastrawan yang menjadi editor penerbitan antologi puisi Pesan Ombak Padjadjaran ini.

Beberapa nama yang ada dalam antologi ini, antara lain Mona Sylviana, Mohamad Syafari Firdaus dan beberapa nama lainnya, saat ini sudah menunjukkan kiprah mereka sebagai pegiat sastra tanah air yang patut diperhitungkan.

Harapan saya, ebook Pesan Ombak Padjadjaran ini bisa menjadi pemicu munculnya ebook sejenis, agar semangat berkesenian, khususnya sastra di dunia maya, bisa lebih semarak.

Ebook Pesan Ombak Padjadjaran bisa anda download di sini. Selamat membaca.

16 Agustus 2008

Surat Wasiat Bapak

Nak,
Saat kau baca ini
aku berharap Indonesia sudah merdeka
siapa tahu bapakmu ini tak sempat menikmatinya
keburu mati ditembus peluru
dan dikuburkan tanpa nisan
 
tapi aku rela
asal kau bisa menikmatinya
karena dijajah itu sungguh tak enak
dan itu pula sebabnya
aku mati-matian ingin merdeka
bebas dari tangan-tangan yang memperkosa hak-hak kita
 
Nak,
hati-hati juga
jika kebetulan kau sempat menikmati kemerdekaan
jangan biarkan dirimu terjajah atau menjajah bangsamu sendiri
sebab jika itu terjadi berarti
kau telah mengkhianati aku dan generasi bapakmu ini
 
tak usah jadi pahlawan
apalagi sok pahlawan
karena pahlawan itu hanya sebutan
karena pahlawan sejati hanya ada di buku cerita
lebih baik jadi rakyat yang jujur saja
karena dengan begitu
engkau telah jadi pahlawan
paling tidak bagi dirimu sendiri
 
 
Panjalu, 16 Agustus 2008

Bung Karno Baca Proklamasi. Mau?

Waktu memang juara. Kita tak pernah bisa mengejar waktu, dan justru kita yang selalu kerepotan diburu waktu. Tak terasa sudah 17 Agustus lagi. Indonesia menggelar hajatan besar lagi.
 
Meski ditingkahi carut marut, meski banyak tangis dan keluh kesah, tanggal keramat ini terlalu berharga untuk tidak dirayakan. Tanda syukur jadi bangsa yang merdeka, meski tak kaya.
 
Apa yang bisa kuberikan buat bangsaku? Tak ada. Atau belum, barangkali. Tapi tak salah bila ikut mengenang, flash back ke tahun 1945, saat tekad untuk merdeka dibacakan.
 
Dengar, dengarlah! Teks bersejarah itu dibacakan. Siapa tahu bisa meruntuhkan keangkuhan kita yang seringkali merasa paling berjasa bagi negeri ini.
 
Proklamasi...
 
Aku merinding mendengarnya.
 
(yang mau ikutan merinding, silakan download pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno di SINI.)

13 Agustus 2008

70 LAGU ANAK-ANAK INDONESIA

Lagu anak-anak datang dan pergi silih berganti. Namun lagu anak-anak dari era 'modern' seolah kehilangan ruh. Barangkali terlalu genit bermain-main dengan unsur-unsur musikal dan resep-resep industri, sehingga malah melenceng dari - katakanlah - kaidah-kaidah membuat lagu anak-anak yang bagus.
 
Yang bertahan dan nyaris 'evergreen' tetap saja produk lama, yang kebanyakan bahkan seringkali tidak dikenal lagi siapa penciptanya. Kelebihan lagu anak-anak produk 'tempo dulu' adalah: lagu-lagu tersebut memang sengaja diciptakan dan didedikasikan untuk anak-anak. Rasanya hampir tidak ada pertimbangan komersial yang disertakan dalam proses pembuatan lagu-lagu tersebut.
 
Selain itu, ada misi pendidikan di dalam lagu-lagu tersebut, yang tentu saja disampaikan dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Bagaimana misalnya lagu Pelangi memperkenalkan eksistensi Tuhan kepada anak-anak dengan cara yang sangat sederhana, melalui lirik: 'pelukismu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan Tuhan'. Atau tengoklah betapa pesan-pesan tentang budi pekerti terasa sangat kental di dalam lagu 'Pergi Belajar'.
 
Bandingkan dengan lagu anak-anak produksi era 'modern'. Pahamkah Anda dengan lirik lagu 'Mama..bolo-bolo, Papa, bolo-bolo..' dan seterusnya? Terus terang hingga saat ini saya tidak memahami maksud si pencipta lagu tersebut, apalagi menangkap misi yang ingin disampaikan di dalamnya.
 
Membuat lagu anak-anak memang bukan pekerjaan mudah. Perlu kecerdasan dan keterampilan untuk menyampaikan pesan-pesan luhur dalam bahasa anak-anak.  Makanya, tidak setiap pencipta lagu bisa menciptakan lagu anak-anak yang baik. Ketika dipaksakan, akhirnya muncullah lagu anak-anak 'sampah' yang tidak jelas arahnya.
 
Sekedar untuk mengingatkan kembali akan lagu-lagu anak-anak yang bermutu, saya mengumpulkan sekitar 70 lirik lagu anak-anak dalam format e-Book, yang sebagian besar diantaranya pasti kita kenal. Sekalian juga untuk mengenalkan kembali lagu-lagu tersebut kepada anak-anak, ponakan, atau bahkan anak-anak tetangga kita :-)
 
Silakan download e-Booknya di sini. Tolong sebarkan e-Book ini seluas-luasnya, sebagai wujud kepedulian kita kepada anak-anak kita, anak-anak Indonesia.
 
Note: Untuk meng-copy teks dalam e-Book, blok teks yang diinginkan, lalu tekan Ctrl C. Setelah itu paste di NotePad atau MS Word.

07 Agustus 2008

Antara PLN dan Ryan

Di tahun 80an Anda tentu kenal dengan nama Ryan Hidayat, aktor yang tampangnya bisa bikin kaum perempuan menjerit histeris. Bukan karena takut, melainkan saking senengnya karena sang aktor ini memang ganteng.
 
Siapa nyana, di tahun 2000an ini muncul kembali Ryan lain yang karakternya jauh berbeda. Mungkin sama-sama bisa membuat kaum hawa menjerit. Tapi kali ini bukan karena seneng, tetapi saking ngerinya. Betapa tidak, pria muda yang tampangnya sama sekali nggak serem ini dituduh polisi telah menjagal lebih dari 10 orang. Meski belum divonis di pengadilan, namun penyidikan polisi memunculkan bukti-bukti yang mengarah pada kebenaran tuduhan tersebut.
 
Lalu apa hubungannya dengan PLN? Saya katakan, keduanya sama-sama 'jagal'. Hah? Masa sih? Yang dijagal PLN memang bukan orang, tetapi barang-barang elektronik milik jutaan orang Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan. Yang dijagal memang 'CUMA' hak-hak konsumen yang seharusnya mendapatkan pelayanan terbaik.
 
Sejak naiknya harga BBM, PLN yang mengaku kekurangan pasokan bahan bakar melakukan pemadaman bergilir. Tapi di wilayah pedesaan bukan cuma itu. Saya yang tinggal di Panjalu, tiap hari selalu ketiban sial gara-gara terputusnya aliran listrik. Tidak lama memang, tetapi sering dan dalam satu hari bisa terjadi antara satu sampai 10 kali! Anda mungkin tidak percaya, tetapi itulah yang terjadi.
 
Ini sangat fatal, apalagi untuk perangkat semacam komputer. Dan sedah makan korban. Stabilizer dan UPS saya 'dijagal PLN, dan sekarang teronggok tanpa daya, tidak berfungsi lagi. Kedua alat tersebut tidak berdaya dihajar gaya pelayanan PLN yang semau gue memutus aliran listrik.  Komputernya sih belum, tapi rasanya tinggal menunggu waktu saja, jika terputusnya aliran listrik masih terjadi 'serajin' sekarang. Anda yang tinggal di kawasan perkotaan mungkin tidak akan pernah mengalami kejadian seperti ini.
 
Kenapa di pedesaan? Karena beberapa hal:
  1. Orang-orang di kawasan pedesaan dianggap bodoh, nggak sekolah, tolol dll., sehingga meski dianiaya dan dirampas hak-haknya sebagai konsumen pun tidak akan menuntut apa-apa. Stereotyping yang sungguh menyesatkan.
  2. Di kawasan pedesaan tidak ada pabrik besar milik pemodal besar yang ditakuti dan pembayar tagihan yang besar. Jadi PLN tidak perlu kuatir dituntut, karena orang-orang desa tidak punya pengacara.
  3. Warga pedesaan dianggap sebagai warga kelas dua. Ini memang sudah  lama terjadi dan bukan cuma PLN yang bersikap seperti ini. Pemerintah pun demikian. Maka jadilah mereka objek perlakuan yang sangat tidak adil.
  4. Sebaliknya, kota yang orang-orangnya dianggap lebih pinter, warga kelas satu, dan memiliki industri yang membayar tagihan listrik dalam jumlah besar kepada PLN, dianggap harus diutamakan dan diperlakukan sebaik-baiknya.
Nah, kembali ke soal mati lampu tiap hari, silakan hitung sendiri berapa kerugian masyarakat pedesaan yang perabotannya rusak gara-gara perlakuan semena-mena PLN ini. Jutaan orang mengeluhkan sikap PLN ini, tetapi tidak ada satu pihak pun yang bersimpati dan membela mereka. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang konon pembela kepentingan konsumen pun tidak terdengar suaranya. Mungkin mereka menganggap bahwa persoalan ini kurang bergengsi. Wartawan, yang rata-rata tinggal di kawasan perkotaan yang nyaman juga tak pernah mengangkat soal ini. Yang muncul hanya soal pemadaman bergilir. Pemerintah apalagi. Justru merekalah akar dari semua masalah yang terjadi saat ini.
 
Bagi kami, pemadaman bergilir masih mending bisa diatasi, karena biasanya ada pemberitahuan sebelumnya, sehingga kami bisa bersiap-siap untuk tidak menggunakan peralatan elektronik. Tapi mati lampu mendadak, itu yang bikin pusing, karena peralatan elektronik, apalagi yang sensitif seperti komputer, jadi sangat cepat rusak!
 
PLN sendiri sebagai 'penjagal' tidak pernah meminta maaf atas kejadian yang menyedihkan ini. Mereka barangkali menganggap bahwa hal itu sudah resiko konsumen. Padahal seharusnya, sebagai perusahaan yang mengaku profesional, soal meminta maaf jika terjadi kesalahan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia usaha. Dan bukan cuma itu. Setelah meminta maaf harus ada usaha serius untuk mengoreksi kesalahan yang terjadi.
 
Kalau meminta maafnya saja nggak, bagaimana bisa melakukan koreksi atas kesalahan mereka. Atau bahkan mungkin mereka merasa tidak bersalah sama sekali? Kalau demikian, maka saya berani bertaruh bahwa PLN terdiri dari orang-orang yang tidak berotak, atau otaknya ditaro di dengkul. Menyedihkan!
 
Indonesia memang negara ajaib. Yang seharusnya masuk penjara, malah ongkang-ongkang di luar sana. Yang harusnya dibela, malah ditelantarkan. Yang seharusnya dirangkul, malah ditendang. Yang seharusnya bertanggung jawab, malah bisa seenaknya cuci tangan, seolah-olah tidak bersalah.
 
Kalau Ryan si penjagal bisa ditangkap polisi dan menjalani proses hukum, kenapa PLN si penjagal hak-hak konsumennya tidak?
 
Ya, kenapa???!!!
 
Note: Saat saya menulis artikel ini (sekitar jam 8 pagi), sudah dua kali mati lampu. Siap-siap untuk mati lampu berikutnya :-(

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More